Senin, 12 Juli 2010

KEBRUTALAN KRISTEN PEMBERONTAK DI AMBON

Kejatuhan Desa Iha
Inilah peristiwa nyata di medan jihad. Seorang Laskar Jihad Ahlus Sunnah wal Jamaah yang diperbantukan pada masyarakat Iha menyaksikan langsung kebrutalan Kristen Pemberontak. Catatan ini merupakan bukti nyata keganasan masyarakat desa Kristen yang berada disekeliling desa rnuslim, Iha.

Ambon, Laskarjihad.or.id (04/04/2001)
Jumat, 22 September 2000

Kala itu jam menunjukkan pukul 11.00 WIT. Melalui pelabuhan ikan. Tulehu, saya berangkat menuju Desa Iha, pulau Saparua. Desa Iha, salah satu dari tiga desa muslim yang berada di Pulau Saparua, luasnya memang tak seberapa. Dua kali luas lapangan sepakbola, begitulah kurang lebih luasnya.

Desa sekecil itu dihuni oleh 700 jiwa. Saya berangkat bersama rombongan yang terdiri satu regu dari Laskar Jihad Ahlus Sunnah Wal Jama'ah, tujuh orang penduduk asli Iha yang berdomisili di Ambon dan beberapa orang penduduk Kailolo yang berasal dari P. Haruku.

Saat keberangkatan, saya dan rombongan sesaat sempat terhambat. Itu lantaran di pelabuhan ikan Tulehu dijaga ketat aparat keamanan. Begitu ketatnya penjagaan, menjadikan saya dan beberapa rombongan sempat menjadi tegang. Ketatnya penjagaan tak lepas dari beberapa peristiwa hari sebelumnya di wilayah Siri Sori (Islam), Pulau Seram, telah terjadi ketegangan antara masyarakat Islam dan Kristen. Sedang pelabuhan ikan Tulehu merupakan pelabuhan di Pulau Ambon yang biasa digunakan bila hendak ke pulau-pulau di sebelah utara Pulau Ambon.

Ketegangan pun semakin bertambah, saat speedboat yang kami tumpangi hendak berpapasan dengan sebuah speedboat dari arah depan. Kami perkirakan speedboat tersebut milik obet (sebutan bagi orang Kristen di Maluku). Setelah mendekat, diketahuilah bahwa speedboat itu kepunyaan muslim. Ketegangan pun mereda, Speedboat yang ditengarai sebagai milik obet itu ternyata tengah mengangkut korban perang.

Beberapa ratus meter sebelum menyentuh bibir pantai Desa Iha, Palau Saparua, nampak kepulan asap membumbung. Isyarat, betapa permusuhan Kristen pemberontak telah mencapai puncak. Mereka telah melakukan aksi untuk menggempur masyarakat muslim. Bakutikai pun pasti tengah berlangsung.

Kami pun diinstruksikan sang komandan agar rnempersiapkan segala kemungkinan yang bisa terjadi. "Bila telah terlihat bibir pantai, siap siagalah kalian," perintahnya. Saat ketegangan memuncak itulah tiba tiba sopir speedboat berucap kepada saya, "Abang Laskar, berilah beta jimat." "Kami tak pernah memakai jimat. Kami hanya bertawakal kepada Allah," jawab saya seraya meyakinkan kepadanya.

Tak berselang lama, percakapan terhenti. Speedboat yang Kami tumpangi dihujani tembakan dari arah daratan Kristen. Rupanya kedatangan kami telah diketahui pihak Kristen-RMS. Peluru pun berhamburan ke arah kami. Suasana semakin menegang. Speedboat yang kami tumpangi akhirnya tertembak. Peluru menembus dinding speedboat, langsung mengenai jerigen berisi bensin. Barang cair mudah terbakar itupun tercecer, mengalir.

Walau disambut dengan desingan bunyi senapan, alhamdulillah kami akhirnya bisa mendekati bibir pantai. Air laut kala itu tengah surut. Sehingga, kami tak bisa langsung masuk Desa lha. Kami harus melabuhkan speedboat lebih menjorok ke arah lautan dan lebih mendekat ke arah Desa Kristen lhamahu. Segera, rombongan bergegas turun dari speedboat.

Serangan ternyata semakin gencar, bahkan, dari dua arah. Dari selatan Desa Iha, Desa Kristen Noloth, kami diberondong senapan organik. Dan arah utara, Desa Kristen Ihamahu, ternyata lebih dahsyat lagi serbuan mereka. Desa obet satu ini langsung berbatasan dengan Desa Muslim Iha.

Sebelum para penumpang seluruhnya turun, sopir speedboat tertembak paha kanannya. Sementara salah seorang awaknya tertembak di bagian bahu. Dua orang dari Laskar Jihad Ahlus Sunnah wal Jamaah pun turut menjadi korban kebrutalan Kristen RMS. Kedua laskar tartembak di bagian telapak tangan. Serangan sporadis itu, menjadikan sebagian kami berhamburan ke laut.

Kami terpaksa mendekati daratan dengan berenang. Saat mencapai daratan, kami berusaha memasuki Desa Iha dengan merayap. Sebagian lagi dengan berlari sekuat mungkin. Seluruh perlengkapan logistik yang kami bawa dari Ambon tidak semuanya bisa dibawa ke darat. Sebagian masih ditinggal di speedboat. Saat itu suasana begitu mencekam.

Pendaratan di Desa Iha harus dilalui dengan jatuhnya beberapa korban luka-luka. Tiadalah heran bila kemudian masyarakat Desa Iha menyambut kedatangan kami dengan histeris. Perasaan tegang, cemas, namun senang (lantaran kedatangan Laskar Jihad) berbaur menyelimuti dada masyarakat Iha. Nikmatnya berukhuwah sangat terasa saat itu. Di saat kondisi yang demikian kritis, satu dengan yang lain saling membahu untuk berjuang membela kehormatan agama dari kebiadaban Kristen-RMS.

Tak berapa lama, kami bisa beristirahat sejenak. Kelelahan pun mulai sedikit sirna. Meski belum segenapnya pulih, kami harus segera menunaikan tugas berikutnya. Malam itu juga kami beserta masyarakat Iha melakukan penjagaan di berbagai sudut perbatasan desa. Angin pantai berhembus, mengusik malam yang semakin larut. Debur ombak silih berganti menyusul. Malam itu keheningan merayapi setiap sudut desa. Namun begitu, kadang sesekali terdengar bunyi salakan senapan dari arah perbatasan. Malam itu kami lalui dengan penuh harap dan penantian, mengantisipasi segala kemungkinan yang bakal terjadi.

Sabtu, 23 September 2000

Pihak Kristen melakukan serangan fajar. Dari arah tenggara desa, arah yang paling dekat dengan perbatasan Desa Iha, mereka melakukan serangan gencar. Begitu pula dari arah utara desa. Mereka terus menembaki ke arah masyarakat muslim. Meskipun demikian, mereka tak berani mendekat. Sesaat tembakan mereka terhenti setelah beberapa kali tembakan dari arah kapal TNI AL yang persis berada di depan Mesa Iha.

Dalam suasana kritis itulah kami berembug dengan masyarakat Desa Iha untuk menentukan apakah akan mundur atau tetap mempertahankan desa ini. lni dilakukan mengingat perimbangan kekuatan yang tidak sepadan. Namun demikian, hasil rembugan menetapkan bahwa Desa Iha harus dipertahankan.

Hingga pukul 14.00 WIT suasana masih relatif tenang. Tak ada serangan. Selepas jam 14.00 WIT kalangan kristen-RMS bergerak melancarkan penyerangan. Kali ini serangan yang dilakukan sangat intensif dan dahsyat. Kepulan asap dari Desa lha mulai menyelimuti suasana desa. Kobaran api semakin menjalar hingga menjelang maghrib. Sementara amunisi untuk bertempur semakin waktu semakin menipis.

Akhirnya, pertahanan desa pun berhasil dijebol lawan. Terdengarlah bunyi-bunyian terompet dari arah utara, itu terjadi selepas Isya. Hingga tengah malam, pertempuran terus berlangsung. Masjid pun berhasil mereka ledakkan dengan bom. Saat itu, masyarakat memutuskan untuk keluar dari Desa Iha. Baberapa anggota Laskar Jihad Ahlus Sunnah wal Jamaah terus bertempur.

Tatkala masyarakat berduyun-duyun meninggalkan Desa lha, sementara pihak keamanan tidak melakukan pengawalan untuk melakukan evakuasi penduduk, akhirnya beberapa anggota Laskar Jihad yang melakukan pengawalan itu. Kekuatan bertahan semakin menipis. Setelah seluruh penduduk berhasil dikeluarkan dari Desa Iha, kami pun secara bertahap mundur.

Walau demikian, kalangan perusuh Kristen-RMS, masih tidak berani melintasi jalan raya yang membelah desa. Di pantai, sebagian penduduk berhasil dinaikkan ke kapal TNI AL. Sebagian lain masih mencari sanak keluarga yang terpencar dan terbawa arus laut. Jerit tangis anak-anak memilukan hati. Debur ombak menerpa panduduk muslim yang dengan terpaksa harus meninggalkan desanya.

Dalam kondisi semacam itu, nampak kejanggalan yang begitu terang-terangan dilakukan aparat TNI. Kejanggalan itu diantaranya tiadanya bantuan keamanan untuk mengusir dan menghentikan serangan fajar para pemberontak Kristen-RMS.

Dengan potongan-potongan kayu, kami melaut. Menggapai kapal TNI AL yang siaga di tengah laut menampung para penduduk Desa Iha. Para Laskar Jihad Ahlus Sunnah wal Jamaah, seraya mundur menuju kapal TNI AL, terus mengawasi gerak laju musuh. Hingga hanya kepala-kepala kami saja yang teriihat di tengah lautan. Sementara pandangan menatap desa muslimin yang kini terpaksa ditinggalkan. Saat itu, tiada harapan lain kecuali pertolongan Allah Ta'ala. Kami hanya bertawakal kepada-Nya semata.

Setelah dua jam kami berendam dalam lautan, kapat karet TNI AL datang menjemput. Kami semua selamat. Kecuali satu orang dari anggota regu Laskar Jihad yang terpaksa kembali lagi ke daratan karena ada seorang nenek yang masih tertinggal di desa. Suasana mencekam semakin mengancam. Gerakan perusuh Kristen-RMS semakin agresif mendekati desa.

Sayang, sikap TNI AL dan batalyon gabungan (Yon Gab) yang ditugaskan di wilayah tersebut tak banyak berbuat. Mereka cuman diam membatu. Tak ada tembakan yang dilepas ke arah perusuh. Hingga masyarakat muslimin terusir dari kampung halamannya setelah berupaya mempertahankan kehormatannya secara ksatria. Jatuhlah Desa Iha.

Korban di pihak kaum muslimin 10 orang salah seorang diantaranya adalah anggota Brimob. Termasuk dua orang korban yang dibakar hidup-hidup di dalam masjid oleh perusuh Kristen-RMS, yang sebelumnya kedua orang tersebut terperangkap. Sedang korban di pihak Kristen, rnelalui handy talky yang bisa kami pantau, disebutkan 1300 orang. Kalangan Kristen manetapkan peristiwa pertempuran di Desa lha ini sebagai hari berkabung selama satu bulan.

Kami pun berlayar di atas kapal TNI AL beserta para penduduk Desa Iha. Sikap sinis dan tingkah para aparat TNI AL menjadikan rasa tidak simpatik terkubur dalam hati. Penyekapan di kamar kecil kapal TNI AL adalah salah satu bentuk perlakuan tidak beradab aparat. Kebencian aparat terhadap kaum muslimin nampak menyembul kuat. Itu ditunjukkan kala Iha jatuh.(thm/blj)

8 komentar:

Trimakasih infonya gan,
Mudahan banyak muslim yg baca ni artikel.

selalu ada Pertlngan Allah SWT

Semoga saudaraku muslim yg menjadi korban meninggal,saat ini berada dlm surganya allah swt

Kita dapat pelajaran bahwa tidak akan ada yang ikhlash menolong selain kita sendiri.

Kita dapat pelajaran bahwa tidak akan ada yang ikhlash menolong selain kita sendiri.

Kita dapat pelajaran bahwa tidak akan ada yang ikhlash menolong selain kita sendiri.

banyak konflik berdarah telah berlalu

artikel menarik, komentar juga ya ke blog saya www.belajarbahasaasing.com

Posting Komentar