Rabu, 27 Oktober 2010

Pasang Surut Ketuhanan Yesus

Sepandai-pandai para pendeta dan penginjil mengemas doktrin Trinitas dan Ketuhanan Yesus, akan ketahuan juga belangnya. Dengan cara apapun, doktrin batil pasti terbukti kesesatannya, meski dikemas dengan cara apapun untuk menipu umat.

Begitulah misi kristenisasi dalam buku “Isa Almasih di dalam Al-Qur’an dan Hadits” karya Abd Yadi (nama alias) ini. Tipuan dalam buku ini sangat halus. Sampulnya berwarna putih terkesan suci, bagian atas dicantumkan khat kaligrafi Arab dari ayat Al-Qur'an surat Az Zukhruf 61: “Wattabi’uuni haadzaa shiraatum mustaqiim” (ikutilah aku, inilah jalan yang lurus).

Seluruh pembahasan yang dibagi dalam 15 sub judulnya selalu diberi kutipan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits, lengkap dengan idiom-ideom islami. Lalu di bagian akhir buku tersebut diberi lampiran nas-nas Arab dari hadits yang menjadi rujukan. Sekilas, kemasan buku ini nampak seperti buku bacaan Islam.

Tapi umat Islam bukanlah orang yang mudah ditipu dengan rumus 1+1+1=1. Logika sehat umat Islam tidak bisa dikacaukan dengan rumusan aneh Trinitas, bahwa ada tiga oknum tuhan yaitu tuhan bapak, tuhan anak dan tuhan roh.

Sehingga selicik apapun jurus yang dipakai penginjil untuk menipu akidah, bila doktrin yang diajarkan adalah aqidah Trinitas dan Ketuhanan Yesus, maka kaum awam selevel tukang becak pun bisa menyimpulkan bahwa itu adalah ajaran Kristen. Kenyataan ini telah disimpulkan sendiri oleh Pendeta Dr R Soedarmo.

Dalam buku “Ikhtisar Dogmatika,” pakar teologi Indonesia yang meraih gelar doctoral di lulusan Vrije Universiteit Belanda ini mengakui bahwa Kristen sulit ditolak umat Islam karena doktrin Trinitasnya yang tidak rasionalis:

“Agama Islam bercorak rasionalitis, artinya rasio, akal budi, memberi tekanan sungguh-sungguh. Oleh karena itu, trinitas ditolak, sebab tidak dapat dimengerti bahwa 3 adalah 1 dan bahwa 1 adalah 3. Kita tentu insaf bahwa Trinitas memang tidak dapat dimengerti” (hal 114).

Nasib buku “Isa Almasih di dalam Al-Qur’an dan Hadits” ini, sesuai dengan pernyataan Pendeta Soedarmo, justru semakin menumbuhkan penolakan umat Islam terhadap ajaran Kristen. Karena kupasannya terbalik, sangat tidak masuk akal.

Dalam buku setebal 73 halaman itu, Abd Yadi berakrobat merangkai dalil-dalil untuk membuktikan bahwa Nabi Isa (Yesus) adalah pen¬jelmaan Allah SWT. Menurutnya, Nabi Isa bermetamorfosa menjadi Allah setelah melalui tiga tahapan:

Tahap pertama, Nabi Isa dilahirkan dengan proses yang ajaib. Karena dilahirkan dari perawan Maryam yang suci (Qs. Ali Imran 42), dilahirkan dalam keadaan suci (Qs. Maryam 19), dilahirkan dari kalimat Allah dan terkemuka di dunia dan akhirat (Qs. An-Nisa’ 171, Ali Imran 45). Tahap kedua, Nabi Isa memiliki kuasa dan mukjizat yang ajaib: membuat burung dari tanah, menyembuh¬kan orang yang buta sejak dari lahir, menyembuhkan penyakit sopak dan menghidup¬kan orang mati (Qs. Ali Imran 49). Tahap ketiga, kematian dan kebangkitan Nabi Isa yang ajaib (Qs. Maryam 33, Imran 55).

Dengan tiga tahapan ini, penginjil Abd. Yadi menegaskan bahwa Yesus benar-benar Tuhan berdasarkan Al-Qur’an: “Dengan kedudukan tertinggi yang disandangnya, siapa¬kah yang bisa disetarakan dengannya? Bukankah yang memiliki kedudukan tertinggi itu hanya Allah saja?” (hlm. 5).

Sebetulnya, untuk menyelesaikan polemik apakah Yesus itu Tuhan, kita bisa menjawabnya cukup dengan satu ayat:

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putra Maryam", padahal Al Masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” (Qs. Al-Ma’idah 72).

Sayangnya, ayat ini tidak dikutip oleh penginjil Abd Yadi dalam buku putihnya. Ia malah mempraktikkan tafsir akrobatik yang jauh menyimpang dengan logika yang rusak dengan formula “tiga tahapan Tuhan.”

Padahal kalau mau berpikir cermat dan logika yang sehat, justru tiga tahapan itu semakin menolak doktrin ketuhanan Yesus.

Tahap pertama, Nabi Isa (Yesus) bukan tuhan karena dia adalah manusia yang dilahirkan. Seajaib apapun proses kelahirannya, dia tak akan pernah naik takhta menjadi Tuhan. Karena secara aksiomatis Tuhan itu tidak dilahirkan (Qs. Al Ikhlas 3) dan tidak berawal (Qs Al-Hadid 3). Yesus bukan Tuhan karena ia dilahirkan ke dunia oleh seorang manusia (Qs. Maryam 19-33, Injil Matius 1:8-25). Manusia selalu melahirkan manusia, dan setiap yang dilahirkan manusia pastilah manusia. Tidak mungkin manusia melahirkan binatang, apalagi melahirkan Tuhan.

Tahap kedua, Nabi Isa memiliki kuasa dan mukjizat yang ajaib. Meskipun Abd Yadi dan para penginjil yang lain bisa menunjukkan seribu lagi, Nabi Isa tetap manusia biasa. Nabi Isa –maupun para nabi lainnya– mengakui dengan jujur bahwa semua mukjizat itu bukan ciptaannya sendiri, tapi karunia kenabian atas seizin Allah (bi-idznillah). Jadi, mukjizat tersebut adalah bukti kenabian, bukti ketuhanan.

Keunikan mukjizat yang diberikan kepada Nabi Isa juga bukan alasan mempertuhankan dia. Karena di sisi lain, Nabi Isa juga tidak bisa bermukjizat seperti yang dimiliki oleh Nabi Musa, antara lain: tongkat Nabi Musa bisa jadi ular (Qs. Al-A’raf 107 dan Bibel kitab Keluaran 7: 9), padahal tongkat Yesus tidak bisa jadi ular.

Tahap ketiga, kematian dan kebangkitan Nabi Isa yang ajaib berdasarkan surat Ali Imran 55. Meskipun seandainya Abd Yadi bisa membuktikan bahwa Yesus pernah mati dan bangkit seribu satu kali, tapi bukti-bukti itu justru semakin menolak doktrin Ketuhanan Yesus.

Sebab Tuhan itu Maha Hidup (Al-Hayyu) yang tidak takluk kepada maut: “Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia…” (Qs Al-Mukmin 65).

“Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup Kekal dan Yang tidak mati. Dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya” (Qs Al-Furqan 58).

Aksioma ini juga diajarkan dalam Bibel, bahwa salah satu sifat Tuhan adalah tidak takluk kepada maut (I Timotius 6:16).

Kerusakan logika penginjil Abd Yadi bertambah parah ketika memakai dalil Al-Qur'an surat Ali Imran 55 untuk membuktikan Ketuhanan Yesus. Padahal dalam ayat ini Allah menyatakan bahwa Dialah yang akan mematikan Nabi Isa. Jika dengan ayat ini Nabi Isa (Yesus) diyakini sebagai Tuhan, berarti tuhan Yesus dimatikan oleh Tuhan Allah. Hanya teologi sesat saja yang meyakini doktrin “Tuhan membunuh Tuhan.”

Pasang Surut Ketuhanan Yesus

Dalam pandangan Islam yang sangat menekankan tauhid, status para nabi utusan Allah tetap murni sesuai dengan misinya. Nabi tetap nabi, tak satu pun yang bermetamorfose menjadi Tuhan. Berbeda dengan ajaran Kristen, oknum “kenabian” dan “ketuhanan” dalam sejarah Gereja mengalami pasang surut.

1. Selama 22 tahun sepeninggal Yesus, para murid setia Yesus masih konsisten mengamalkan ajaran Taurat. Namun setelah lewat tahun 55 M, mereka mulai melakukan perombakan terhadap ajaran Yesus. Sekitar tahun 300 M, timbul perselisihan hebat di kalangan Kristen yang tidak dapat dikompromikan, antara golongan yang meyakini Yesus sebagai nabi utusan Tuhan dengan golongan yang meyakini Yesus sebagai Tuhan.

2. Untuk menyelesaikan pertentangan ini, maka Kaisar Konstantin mengadakan konsili di Nicea tahun 325 M yang dihadiri oleh sekitar 2.048 uskup dan patriarch yang membawa bermacam-macam doktrin dan keyakinan. Kelompok yang dipelopori oleh Arius dan Lucianus mengajarkan bahwa Yesus hanyalah rasul Allah.

Kaisar yang condong pada pendapat uskup pemuja Ketuhanan Yesus, mengadakan pertemuan khusus dengan 318 uskup yang sepaham dengannya. Maka diputuskan bahwa Yesus adalah Tuhan, lalu memaksakan keputusannya kepada 1.700 uskup yang tidak sepaham dengannya. Tak hanya itu, mereka juga membakar ratusan versi kitab Injil yang bertentangan dengan keputusan konsili.

3. Karena muncul berbagai kelompok penentang Konsili Nicea yang mempertahankan keesaan Tuhan, maka diadakanlah Konsili Konstantinopel tahun 381 M. Salah satu pemicu konsili ini adalah ajaran Macedonius bahwa Roh Kudus bukan Tuhan tapi makhluk. Dalam konsili ini diputuskan bahwa Roh Kudus adalah Tuhan bersama Tuhan Bapak dan Tuhan Yesus. Keputusan ini didukung penuh oleh Kaisar Teodosius I Agung (379-395 M).

Dengan demikian, jelaslah bahwa terjadi metamorfosis ketuhanan dalam teologi Kristen. Berarti Yesus baru dinobatkan sebagai Tuhan dalam kurun 325 tahun sepeninggal Yesus. Selanjutnya, Roh Kudus baru dilantik sebagai oknum ketiga Tuhan dalam kurun 381 tahun sepeninggal Yesus.

Berarti, doktrin Trinitas kristiani baru lengkap tiga oknum (Bapa, Anak dan Roh Kudus) empat abad sepeninggal Yesus. ( suara-islam.com )

7 komentar:

Diposkan oleh Anthony di 17.19
Saya : "Mengapa tuhannya orang Kristen itu tiga?
Jawab : "Dengarlah, hai orang Israel TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!"
Ulangan 6:4
"Jawab Yesus: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa." Markus 12:29
Kami tidak pernah mempercayai bahwa Allah itu jumlahnya tiga

Saya : "Mengapa orang Kristen menyebut Yesus itu anak Allah?"
Jawab : "Yesus disebut Anak Allah bukan berarti Allah itu beranak atau mempunyai anak secara jasmani."
"Firman itu telah menjadi manusia (Yesus)" Yohanes 1:14
Semua manusia di dunia berasal dari debu tanah, kecuali Yesus, Dia adalah Firman Allah yang menjadi Manusia, Firman Allah itu adalah Allah.
"Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah." Yohanes 1:1
Seorang perempuan tidak dapat mempunyai anak kalau tidak ada benih dari laki-laki. Maria tidak menerima benih dari laki-laki, tetapi Maria mengandung, padahal dia masih perawan. Jadi yang dikandung maria itu adalah Firman Allah. Disebut anak manusia (Maria), disebut Anak Allah karena yang dikandung Maria itu itu adalah Firman Allah. Berbeda dengan Adam, Adam tidak dilahirkan, tetapi diciptakan Allah, yang dibuat dari tanah, sebab itu Adam disebut manusia ciptaan yang pertama, bukan Anak Allah.

Saya : "Mengapa orang Kristen menyebut Yesus itu Allah?"
Jawab : "Sebelum Yesus menjadi manusia, Yesus adalah Firman Allah, dan Firman Allah itu adalah Allah.
"Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah." (Yoh 1:1)
Yesus berkata, "Aku dan Bapa adalah satu." Yohanes 10:30
"...dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku" (Yohanes 11:45)

seorang bisa bicara lebih banyak saat dia sudah mati...entah itu islam atau kristen.... jika mereka belum pernah mati ga usah berdebat... masuk surga atau neraka....

dg masuk agama tertentu??percaya kitab suci masing''?? apa sudah jaminan....
semoga ayat'' dari kitab suci itu bisa menyelamatkan anda....

1 lagi... kalau saling mencari kelemahan ga akan pernah ada habisnya... b'coz dari kedua sudut pandang masing'' pihak semua ada kelemahan...

jadi salinglah menghargai.. makhluk bertuhan....

yang jadi HAKIM itu TUHAN....

EMANG YANG BUAT BLOG DASAR PEKOK ASAL NJEPLAK LAMBENE WKWKWKWK

ISLAM NYEMBAH BATU HITAM KATANYA DEMI PERSATUAN KE BARAT TAPI SETELAH DI KABAH SEMUA MENGHADAP KE KABAH(BATU) DAN MENYEMBAH NYA , ADA YANG BILANG KABAH SEPERTI HP BUAT TELPON AWOH NYA WKWKWKWK TAPI HP(KABAH NYA) DI SEMBAH2 PADAHAL TUHAN YANG KUDUS ADA DI SURGA WKWKWKW - KOWE NGOPO LE KOK BATU KAMU SUJUD I WKWKWKWK

TUHAN ITU DEKAT DI HATIMU DAN PIKIRANMU NGAPAIN KE ARAB BROOO HABISKAN HARTA MU UNTUK SEBUAH BATU YANG UNTUNG YA ARAB NYA BROOO WKWKWKWK PAKAI NYEMBAH BATU SEGALA..............DAN TUHAN ITU YESUS YANG FIRMANNYA MENJADI MANUSIA.......CARI NABI ITU YANG BENER AKAL NYA DONG.......YANG OTAK NYA WARAS...........DARI MANA DAPAT FIRMAN2 YANG BENAR

https://yesustuhan.wordpress.com/faq/

Islam agama rasionalitas? Maksudnya agama karangan manusia? Iya jelas. Kalau semuanya harus bisa dipahami manusia, maka itu jelas buatan manusia untuk manusia. Kenapa? Karena Yang Maha Kuasa itu Maha Besar dan TIDAK MUNGKIN bisa dipahami oleh manusia sepenuhnya. Jadi, Trinitas itu lebih benar, karena masih mengandung unsur misteri. Sedangkan Tauhid tidak benar, karena sepenuhnya bisa dipahami manusia, padahal, sekali lagi, Allah tidak bisa sepenuhnya dipahami manusia.

Posting Komentar