This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rabu, 25 Januari 2012

Jurnalis Iran Ungkap Hubungan “Intim” Iran dan Israel

foto: syiahindonesia.com
Jurnalis Iran yang dipenjara, Nader Karimi menemukan sebuah hubungan “intim” antara Iran dan Israel dan bersumpah akan meluncurkan buku tentang informasi yang dia ketahui tentang hal tersebut ketika dia nanti dibebaskan.
Nader Karimi, seorang narapidana dari Penjara Evin di Teheran, ia dipenjara atas tuduhan mendestabilisasi rezim yang berkuasa, mengatakan bahwa permusuhan antara Iran dan Israel tidak lebih hanya sekedar perang verbal yang dimaksudkan untuk memberikan kesan kepada dunia Muslim bahwa Iran adalah musuh setia Israel dan pelindung bangsa Palestina.
“Para pengamat, wartawan, dan analis politik terjebak dalam perang lisan mereka dan tidak mampu menggali kedalaman hubungan antara kedua negara,” tulis Karimi dalam sebuah artikel yang dikirim ke AlArabiya.net.
Karimi menambahkan bahwa pemerintah Iran dan Israel telah menggunakan wartawan untuk membuat ‘kebohongan’ kredibel mereka dan untuk menipu dunia agar berpikir bahwa mereka adalah dua negara yang saling bermusuhan.
Karimi, yang juga ahli dalam urusan Iran-Israel, mengatakan bahwa bertahun-tahun ia menghabiskan waktu berbicara dengan diplomat Iran dan mempelajari sejarah hubungan antara Iran dan Israel membuatnya menyadari bahwa kedua negara, pada kenyataannya, telah mengambil keuntungan dari perang palsu yang disebarkan oleh media massa.
Sebelum menulis tentang sifat dari hubungan Iran-Israel, Karimi memutuskan untuk mengadakan pertemuan dengan perwakilan badan-badan intelijen di kedua negara itu.
“Sebagai seorang jurnalis yang diatur oleh etika jurnalisme, saya berpikir bahwa akan tidak etis untuk menulis tentang topik ini tanpa pertama kali bertemu dengan agen intelijen dari kedua negara baik Iran dan Israel untuk mempelajari kebenaran yang terjadi.”
Karimi menjelaskan bahwa hal itu lebih mudah dan lebih murah untuk menemui agen dari divisi urusan Iran di Mossad dari pada bertemu agen dari divisi urusan Israel di Ettelaat, badan intelijen utama di Iran.
“Saya pergi ke Turki dan mendekati agen Israel asal Iran,” tulisnya. “Saya katakan kepada mereka saya seorang wartawan oposisi yang ingin menggulingkan rezim saat ini dan hal itu cukup untuk mendapatkan kepercayaan mereka.”
Menurut apa yang Karimi dengar dari agen Mossad, kejatuhan rezim saat ini tidak menguntungkan Israel untuk sementara waktu.
“Israel lebih suka sebuah rezim yang lemah dan terisolasi di Iran karena ini membuat lebih mudah bagi mereka untuk membangkitkan perang verbal mereka dan menyebarkan teror di wilayah ini.”
Karimi mengatakan bahwa keasyikan Iran dengan proyek persenjataan besar mereka sebenarnya menjadi rencana Israel dan Amerika agar rezim tersebut jatuh menjadi mangsa mereka.
Melalui pertemuan dengan agen Mossad, Karimi merasa tidak mungkin bahwa Israel akan melancarkan serangan militer terhadap Iran.
Adapun agen intelijen Iran, Karimi berpura-pura bahwa ia melakukan kesalahan besar dengan telah menghubungi agen Mossad dan ia ingin membuat pengakuan dalam upaya untuk memperoleh wawasan dari perspektif intelijen Iran.
Setelah menghabiskan 20 jam sepanjang dua minggu dengan agen Mossad, Karimi menghabiskan lebih dari 200 jam diinterogasi dan disiksa di Departemen Intelijen dan Keamanan Nasional Iran sampai akhirnya dia dipaksa untuk menulis pengakuan atas kejahatan yang dia sendiri tidak lakukan.
“Namun, saya harus mengakui bahwa lebih mudah untuk mengekstrak informasi dari agen-agen intelijen Iran selama interogasi dari pada untuk mendapatkan informasi serupa dari agen-agen Israel.”
Salah satu kesimpulan yang paling penting yang Karimi capai selama interaksi yang panjang dengan agen intelijen Iran adalah bahwa hal itu demi kepentingan Iran dengan melancarkan perang kata-kata melawan Israel yang setiap saat dan kemudian hari atau bahkan memulai aksi kekerasan di Daerah Pendudukan.
“Tindakan Israel memudahkan pemerintah Iran untuk melenturkan otot dan untuk menghasut opini publik Arab.”
Dalam artikelnya, Karimi menunjukkan bahwa meskipun menyatakan perang antara Iran dan Israel, ternyata kedua negara memiliki hubungan dagang.
“Beberapa barang, seperti buah-buahan, diimpor dari Israel, lewat perusahaan Israel yang memiliki bisnis di Iran. Mereka berurusan dengan ekonomi di negara mereka sebut ‘musuh’.”
Karimi menambahkan bahwa pemerintah Iran tidak pernah membuat daftar komoditas Israel atau perusahaan yang harus dilarang dan mereka tidak mengharapkan untuk melakukannya.
Menurut Karimi, sejak perang Iran-Irak, broker Iran telah membeli senjata mahal dan peralatan dengan bantuan broker Israel.
“Gambar citra satelit yang diambil selama perang Iran-Irak mengungkapkan penggunaan peperangan elektronik, dengan radar sangat canggih dan peralatan nirkabel. Semua ini menimbulkan pertanyaan tentang klandestin kesepakatan antara Iran dan broker Israel.”
Karimi menambahkan bahwa agen-agen Israel masuk dan keluar dari Iran dengan bebas dan tidak dengan paspor Israel.
“Ini terjadi tepat di bawah mata Departemen Intelijen dan Keamanan Nasional Iran.”
Karimi menunjukkan bahwa pemerintah Iran mengambil keuntungan dari mahasiswa Palestina yang menerima hibah untuk belajar di Iran dan memaksa mereka untuk memata-matai sesama Palestina mereka serta di kedutaan Arab di Teheran.
“Seorang mahasiswa Palestina mengambil gelar PhD dalam sejarah Islam di Teheran direkrut oleh Departemen Intelijen dan Keamanan Nasional untuk memata-matai kedutaan Yordania dan Sudan di Teheran.”
Mahasiswa ini, ia menambahkan, kemudian ditendang keluar dari Iran setelah menghabiskan 15 bulan di dalam penjara. [fq/aby/erm/syiahindonesia.com].

KITAB DAN SUHUF PARA NABI ALLAH SERTA POSISINYA DALAM DAKWAH PRA KENABIAN MUHAMMAD

KITAB DAN SUHUF PARA NABI ALLAH SERTA POSISINYA DALAM DAKWAH PRA KENABIAN MUHAMMAD

Oleh: Yudi Wahyudin

Kesempurnaan Al-Islam, ditandai oleh turunnya Al-Maidah, ayat 3, yang diturunkan ketika haji wada.[1] Dalam khutbahnya, Rasulullah Saw bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya syaitan telah putus asa (berharap banyak) dapat disembah di negerimu ini (baca: Mekkah)”.[2] Peristiwa ini menandakan bahwa proses penancapan dasar Tauhid oleh para nabi sejak risalah pertama oleh Nabi Nuh hingga Isa a.s, dan Nabi Muhammad telah sempurna.[3] Hal ini menandakan bahwa wahyu, atau penyampaian kehendak Allah kepada manusia, memiliki sejarah panjang, dan memiliki beragam bentuk. Wahyu, atau dalam bahasa Ismail Al-Faruqi disebut sebagai, data revelata dilestarikan melalui hafalan.[4] Bentuk-bentuk itu, dikenalkan dalam Al-Quran sendiri, dengan sebutan beragam: Zabur, Taurat, Injil, dan suhuf. Kitab Zabur disebut sebanyak 2  kali dalam bentuk zâbûr dan 2 kali dalam bentuk zubur. Taurat disebutkan secara bergandengan dengan Injil sebanyak 7, disandingkan dengan Al-Quran sebanyak 1 kali, disandingkan dengan injil dan hikmah sekaligus sebanyak 2 kali. Sedangkan Taurat yang disebutkan secara mandiri sebanyak 7. Sedangkan injil yang disebut secara mandiri sebanyak 3. Sedangkan suhuf disebutkan tiga kali, namun dalam surat Abasa , ayat 13,  suhuf disebutkan –sebagaimana menurut tafsir mu’tabar, merujuk pada Al-Quran.
Namun bagaimana isi dari data revelata itu? Sebab jika merujuk kepada Al-Quran, tidak ada gambaran detail mengenai isi dari kitab dan suhuf. Namun yang paling jelas dan meyakinkan adalah bahwa Al-Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, merupakan pembenar (mushaddiq) terhadap kitab-kitab terdahulu dan mengimaninya merupakan sebuah kewajiban. Peran Al-Quran sebagai mushaddiq sekaligus penyempurna hukum-hukum sebelumnya sekaligus membatalkan sebagian hukum-hukum Taurat yang secara khusus di-taklif-kan kepada Bani Israil, menandakan bahwa dalam proses pewahyuan ada sebuah perubahan (change) dan kesinambungan (continuity). Kepentingan lain dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana hukum yang tertuang dalam kitab dan suhuf para nabi terdahulu sehingga dengan segera dapat tergambar apa yang menjadi ushul al-dakwah para nabi itu. Namun harapan atas kesulitan-kesulitan di atas seolah muncul setelah kita mengetahui secara historis bahwa Nabi Ibrahim –salah satu nabi yang menerima suhuf, hidup pada zaman patriarkal -2000-1400 SM- ada kemungkinan bahwa beliau bisa menulis dan membaca serta memandang hormat teks pesan Ilahi seperti orang-orang sezamannya, Hammurabi, yaitu orang-orang senegri dengan Ibrahim. Kendati arkeolog belum menemukan bukti fisik keberadaanya, beralasanlah untuk mengharap keberadaan mereka.[5]
Harapan itu menjadi lebih terang terlebih setelah penemuan arkeolog yang mengejutkan banyak ahli filologi abad ini, yaitu ditemukannya naskah-naskah kitab suci yang memiliki rahasia kuno yang tersembunyi di padang Yudea selama kurang lebih 2000 tahun. Namun setelah empat dekade sejak penemuannya, banyak rahasia gulungan itu disembunyikan oleh kelompok kecil sarjana yang memegang hak eksklusif atas dokumen tersebut. Barulah pada September 1991, gulungan itu difoto secara diam-diam (dicuri) kemudian disebar melalui pos ke seluruh wilayah negeri itu. Suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri, beberapa naskah gulungan Qumran yang berbahasa Ibrani berbeda jauh dengan naskah Masoret –kitab perjanjian lama yang paling tua yang ditulis sekitar tahun 1005 M. Hal ini mengundang pertanyaan besar, apakah para Masoret yang terkenal teliti itu kurang teliti, ataukah teks Qumran menunjukkan sebagai versi Bible Ibrani lain yang berbeda dengan bible yang dipakai sekarang? Selain itu, naskah Qumran ini menunjukkan kepada kita fakta bahwa Yudaisme abad pertama memiliki persamaan dengan Kristen awal. Sementara itu tidak ada satu kitab pun dari Perjanjian Baru versi konsili Nicaea pada 325 M, yang tertulis dalam naskah Qumran.[6]
Selain merujuk pada data-data sejarah di atas, penulis akan mencoba melihat bagaimana pendapat berbagai macam mufassir mengenai ayat-ayat yang berkenaan dengan kitab dan suhuf terdahulu. Selain itu, penulis akan mencoba melihat riwayat dan hadits-hadits dengan bantuan program Al-Maktab Al-Syamilah versi.2.

Kitab dan Suhuf dalam Hadits dan Al-Quran
Dalam shahîh Ibnu Hibbân, Rasulullah ditanya tentang shuhuf yang diturunkan kepada suhuf Nabi Allah Musa a.s. Rasulullah s.a.w berkata, “Sebahagian daripada kandungan suhuf Nabi Musa a.s adalah: 1. Aku heran pada orang yang telah meyakinkan akan datangnya kematian (yakin dirinya akan mati dan ditanya tentang amalannya), tetapi mengapa mereka merasa bahagia dan gembira di dunia (tidak membuat persediaan).(2). Aku heran kepada orang yang yakin akan neraka, tapi mereka malah banyak tertawa, (3) Aku heran kepada orang yang telah meyakini akan adanya qadar (ketentuan) Allah, tetapi mengapa mereka marah-marah (bila sesuatu musibah menimpa dirinya). (4) Aku heran dengan orang yang melihat dunia dengan cara yang berlebihan dan bergaul dengan ahlinya, (5) Aku heran pada orang yang telah meyakini akan adanya hisab (hari pengiraan amal baik dan buruk), tetapi mengapa mereka tidak berbuat kebaikan?”.[7]
Dari satu-satunya hadits yang penulis temukan mengenai suhuf Musa di atas, dapat kita identifikasi hal-hal berikut:
Pertama, bahwa budaya masyarakat ketika Nabi Musa berdakwah penuh dengan hipokritas yang sudah memuncak. Di satu sisi masyarakat Yahudi ketika itu benar-benar meyakini akan datangnya kematian, namun di sisi lain, pengetahuannya hanya tinggal sebatas pengetahuan. Hal ini diperkuat oleh beberapa Ayat Al-Quran. (lihat, Al-Baqarah, 44; Al-Jumu’ah, 5). Hipokritas ini relevan dengan sikap mereka terhadap hari akhir yang dengan pengetahuan yang mereka miliki tentang tanda-tanda hari akhir, namun tidak memiliki konsekwensi moral dalam perilaku keseharian mereka. Kedua, pengetahuan-pengetahuan tentang akhirat, qadar, hisab, dan kesementaraan dunia merupakan materi yang sinergi dengan kandungan Al-Quran. Hal ini menjadi bukti bahwa suhuf Musa a.s. merupakan penjelas dari wahyu Allah.
Sedangkan dalam surat Al-Najm, 53. Allah SWT berfirman, “Apakah tidak pernah diberitakan apa yang ada dalam suhuf Musa dan Ibrahim yang telah ditunaikan?”. Dan surat Al-‘Alâ, 19., “Suhuf Ibrahim dan Musa”. Dalam Tafsir Jalalain, ‘suhuf Musa’ diartikan sebagai lembaran-lembaran Taurat atau lembaran-lembaran yang berisi ajaran para nabi sebelumnya. Sedangkan dalam tafsir Al-Thabari, suhuf Musa berisi tentang ancaman Allah di akhirat. Sedangkan suhuf Ibrahim, adalah risalah yang telah disampaikan oleh Ibrahim dan telah tertunaikan.[8] Sedangkan Ibnu ‘Âsyûr mengatakan bahwa suhuf musa itu adalah Taurat. Sebagaimana juga suhuf Musa, inti dari suhuf Ibrahim adalah apa yang ada dalam surat Al-‘Ala.[9] Sedangkan dalam Ibnu Katsir, beliau mengetengahkan sebuah hadits dari Ibnu Hatim tentang pernyataan Rasulullah tentang kenapa Nabi Ibrahim disebut orang ‘yang telah menunaikan’? Rasul menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim selalu berdakwah setiap pagi dan sore, “Bertasbihlah kepada Allah di waktu sore hari dan shubuh” (QS. Al-Rum, 17).[10] Dalam footnote Al-Quran terjemah Depag, disebutkan bahwa yang dimaksud bertasbih adalah, ‘Shalat’.[11] Dalam Aisar Al-Tafasir, ditambahkan bahwa suhuf Ibrahim itu terdiri dari 10 buah.[12] Sedangkan dalam tafsir Al-Zamakhsyary, disebutkan bahwa suhuf Nabi Ibrahim terdiri dari 30 buah suhuf, sepuluh pokok tentang pertaubatan, sepuluh pokok tentang ciri-ciri mukmin, dan sepuluh pokok lainnya tentang konsekwensi keimanan.[13]
Mengenai surat Al-‘Alâ terdapat berbagai macam pendapat, diantaranya Tafsir Al-Tabari mengutip berbagai macam ta’wil mengenai ayat terakhir surat Al-‘Alâ. Pendapat Ikrimah bahwa ‘suhuf Musa dan Ibrahim’ adalah maksudnya ayat-ayat yang ada dalam surat ini. Sedangkan Abu Al-‘Aliyah mengenai ‘suhuf Musa dan Ibrahim’ mengatakan bahwa kisah mengenai kandungan surat Al’Alâ terdapat dalam suhuf-suhuf terdahulu. Sedangkan Qatadah mengatakan bahwa yang ada dalam suhuf Musa dan Ibrahim hanya ayat, “Dan sungguh bahwa akhirat itu lebih baik dan kekal”. Dan setelah mengungkap beragam pendapat di atas, Imam Al-Thabari mengatakan bahwa, “Pendapat yang paling tepat adalah, bahwa ayat 14-17 lah yang benar-benar ada dalam suhuf Musa dan Ibrahim. Sebab ayat sebelumnya ditujukan kepada Nabi Muhammad”.[14]
Sedangkan mengenai istilah kitab, hadits panjang dari Abu Hurairah bercerita tentang ucapan Rasulullah mengenai keistimewaan hari jum’at, “Hari jum’at adalah sebaik-baiknya hari di mana matahari diterbitkan, yaitu karena pada hari itu Adam diciptakan, kemudian di keluarkan dari surga, pada hari itu juga ia bertaubat, dan hari itu juga ia meninggal. Hari jum’at adalah ditetapkannya hari kiamat” Kemudian Ka’ab membuka Taurat kemudian membenarkan ucapan Rasulullah karena bersesuaian dengan Taurat.[15] Hadits dari Ibnu Umar menjelaskan tentang ucapan Nabi terhadap dua orang Yahudi yang berzinah, dengan merujuk pada Taurat nabi bertanya, “Apakah kalian mengetahui bahwa pezina mendapatkan rajam dalam Taurat?”. Mereka menjawab, “Tidak baginda, kami hanya menemukan dalam taurat mengenai hukum jilid”, Rasul bersabda, “Kalian telah berbohong, sesungguhnya dalam taurat ada hukum rajam”, mereka menjawab, “Engkau benar-benar jujur wahai Rasul, dalam Taurat terdapat ayat tentang rajam”. Kemudian para pezina itu mendapat hukum rajam.[16] Dalam Sahih Bukhari, riwayat Amr bin Ash menerangkan bahwa dalam Taurat sudah dijelaskan sifat-sifat Nabi Akhir Zaman.[17] Dalam Sahih Bukhari, riwayat dari Abu Hurairah menjelaskan bahwa, Taurat itu berbahasa Ibrani.[18]
Sedangkan injil, diceritakan ada namus atau tanda-tanda –seperti juga dalam Taurat, tentang kenabian Muhammad SAW.[19] Salah satu surat dalam Al-Quran yang tidak diturunkan dalam Zabur, Taurat, dan Injil adalah surat Al-Fâtihah.[20] Secara etomologi, Ibnu Hajar mendefinisikan zabur sebagai kitab. Bahkan Rasulullah menyebut zabur sebagai bacaan dalam riwayat Al-Kusymihanni. Disebut zabur karena ia mazbûr atau maktûb atau tertulis. Dan berarti zabur juga karena berupa kumpulan tulisan tertentu. Sebagian ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan zabur adalah taurat itu sendiri. Qatadah berkata, bahwa zabur terdiri dari 150 surat keseluruhannya berisi wejangan dan sanjungan terhadap Allah SWT. Di dalamnya tidak ada halal, haram, kewajiban (faraid) ataupun hudûd (hukum publik). Akan tetapi, untuk kebutuhan hal tersebut merujuk kepada taurât. Riwayat ini dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim dan lain-lainnya. Imam Nawawi berkata, “Orang sholeh di zaman Daud mengkhatamkan zabur empat kali di waktu malam, dan empat kali di waktu siang”.[21]

Suhuf dan Kitab dalam Penemuan Sejarah dan Arkeologi
Perjalanan panjang kitab Taurat berawal dari wafatnya Nabi Sulaiman tahun 992 SM. Kerajaan beliau selanjutnya terpecah menjadi dua, di utara dinamakan Kerajaan Israel dengan ibukota Samaria, dan di selatan dinamakan Kerajaan Yehuda dengan ibukota Yerusalem. Yerusalem dipercaya sebagai tempat penyimpanan naskah asli Taurat sehingga warga Israel sering beribadah di Yerusalem (Kamal, Asal-usul Kitab Suci:16). Dalam perjalanan selanjutnya, bangsa Israil kembali menyembah berhala, sedangkan bangsa Yehuda mulai melanggar banyak hukum taurat sehingga Allah menghancurkan mereka melalui raja Babylonia dan Nebukanedzar. Setelah semuanya tidak ada yang tertinggal bahkan bahasa Ibraninya sendiri, Nabi Uzair a.s pernah mencoba menulis ulang kitab Taurat Musa dalam bahasa Aram yang kemudian disebut Naskah Septuaginta. Sayangnya kedua naskah tersebut raib pada abad 2 SM.[22]
Dari penjelasan di atas, jelas bahwa kitab Taurat nabi Musa as sudah lenyap sejak abad ke-3 SM. Begitu pula salinan Nabi Uzair dan naskah Septuaginta. Namun sekitar tahun 70-an, muncullah injil penggenap yang disebut Injil Perjanjian Baru dalam tradisi Aquila (130 M), Theodotion (abad ke-2 M) dan Symmakus (abad ke-3 M) yang dilakukan oleh revisionis Septuaginta ortodoks seperti Origenes (232-254), Uskup Mesir Hesikhius, dan Tua-tua Lukian di Anthonia (311).[23]
Oleh karena itu, satu-satunya bukti arkeologis mengenai lembaran-lembaran kitab kuno adalah apa yang ditemukan di Qumran, Yudea. Naskah tersebut dikenal sebagai naskah ‘Gulungan Laut Mati’ atau The Dead Sea Schroll. Sedangkan suhuf Musa, penulis mendapatkan salinan terjemahnya dari blog Aby Yusuf’s Site. Namun karena sumbernya tidak disebutkan, penulis tidak akan cantumkan di sini. Sedangkan seluruh kitab yang terangkum dalam Perjanjian Baru merupakan hasil kesepakatan konsili Neceae pada 325 M, maka orisinalitasnya perlu dipertanyakan. Kitab baru ini berisikan karangan Matius, Markus, Lukas, dan Yohannes, 13 surat yang ditulis Paulus, 3 surat Yohannes, 1 surat Yakobus, 1 surat Yudas, 2 surat Petrus, 1 surat Lukas kepada orang Ibrani, dan Wahyu kepada Yohannes. Semua surat yang ditulis Paulus, Yakobus, Yohannes, Yudas, Petrus, dan lain-lain jelas bukan firman Tuhan dan biasanya dalam beberapa versi, tulisan yang terakhir ini tidak berwarna merah seperti tulisan empat kitab lainnya. A.  Tricot, seperti dikutip Bucaille, menerangkan  bahwa Injil Matius, Markus dan Lukas telah disusun setelah 70 M. Kecuali Markus, ketiga Injil tersebut sebenarnya tidak ditulis sebelum tahun itu dan tidak diriwayatkan dalam bentuk tertulis. Oleh karenanya, lagi-lagi orisinalitasnya sangat rendah dan membuka kemungkinan pemalsuan-pemalsuan karena ditulis hampir 50 tahun setelah Yesus diangkat oleh Allah. Bagaimana dengan Markus? Seperti disebutkan di atas, ia sebenarnya bukan sahabat (rasul dalam tradisi Kristen), tapi adalah anak sahabat Yesus, yaitu Zebedeus. Artinya, Kitab Markus sebagai kitab tertua yang ditulis pada tahun sebelum 70, ternyata tidak ditulis oleh murid Yesus sendiri. Hal ini mengakibatkan sebuah kenyataan bahwa, baik Matius, Lukas atau Yahya  tidak  tahu bagian  mana yang merupakan Injil Markus dan mana yang bersumber dari Zebedeus. Dengan begitu, menurut R.P. Kannengiesser, “Orang akan mendapatkan suatu ide yang kongkrit tentang kebebasan para pengarang dalam membentuk susunan literer hikayat-hikayat Bibel sampai permulaan abad ke-2”.[24]
Oleh karena itu peninggalan sejarah yang masih membuka peluang untuk digali isi kebenarannya adalah naskah Qumran. Sayang sampai saat ini masih tidak bisa dikonsumsi oleh publik. Namun menurut Ataur Rahim, penulis Misteri Yesus dalam Sejarah, mengatakan bahwa dokumen-dokumen yang masih memiliki tingkat keaslian lebih baik dari Perjanjian Baru adalah Injil Barnabas dan Injil Hermas. Injil Barnabas ditulis langsung oleh sahabat Yesus. Sebuah keberuntungan, bahwa sebelum konsili Nicaea pada 325 M, Injil Barnabas sempat menjadi injil induk (canonical) dan dengan begini dapat menggambarkan bagaimana tradisi kristen awal. Barnabas yang seorang Yahudi adalah sahabat Yesus yang sepeninggal beliau, mempertahankan ajaran murni Yesus dari setiap bid’ah, terutama upaya-upaya yang dilakukan oleh Paulus dari Tarsus.

Fungsi Kitab dan Suhuf dalam Ushul Dakwah Para Nabi
Dari uraian di atas kita dapat menganalisa bagaimana posisi kitab dan suhuf sebagai Ushul Al-Dakwah para nabi Allah pra Nabi Muhammad SAW. Dalam literatur pelajaran agama Islam untuk tingkat SD, SMP, dan SMA, selalu ditekankan bahwa Kitab yang wajib diimani ada 4, yaitu: Taurat, Zabur, Injil, dan Quran. Tentu saja ini merupakan poin penting dalam pengajaran Islam. Bahkan ke depan perlu juga dibicarakan mengenai penyimpagan-penyimpangan yang dilakukan oleh Yahudi dan Nashrani, khususnya berkaitan dengan kitab Taurat dan Injil.
Namun sedikit sekali diantara kita yang mengetahui bahwa kitab yang berisi tentang syari’at hanya ada tiga, yaitu Taurat, Injil dan Quran[25]. Adapun zabur, seperti dikutip oleh Qatadah ia berkata, bahwa zabur terdiri dari 150 surat keseluruhannya berisi wejangan dan sanjungan terhadap Allah SWT. Di dalamnya tidak ada halal, haram, kewajiban (faraid) ataupun hudûd (hukum publik). Akan tetapi, untuk kebutuhan hal tersebut merujuk kepada taurât. Sedangkan Injil berisi tentang pelurusan-pelurusan yang dilakukan oleh Ahl Al-Kitab mengenai proses penciptaan alam semesta, keesaan Allah, dan tanda-tanda (namus) tentang kenabian Muhammad.
Tidak banyak riwayat mengenai kitab dan suhuf nabi pasca Musa dan sebelum Isa a.s., kecuali keterangan mengenai zabur. Oleh karena itu kita dapat mengatakan bahwa kitab dan suhuf yang dijadikan ushul dakwah oleh Nabi Musa dan nabi setelahnya adalah Taurat. Bahkan satu-satunya keterangan yang kita dapatkan dari naskah masoret dikatakan bahwa Nabi Uzair pernah menulis ulang Taurat yang sudah disimpangsiurkan oleh Yahudi.
Lalu bagaimana dengan suhuf Ibrahim? Tentu saja, karena suhuf Ibrahim diwahyukan sebelum Taurat, maka satu-satunya keterangan adalah apa yang ada dalam surat Al-’Alâ, yaitu tentang tazkiyyah al-nufs, dzikir dan shalat, serta peringatan tentang kesementaraan dunia dan kekekalan akhirat. Hal ini dapat kita lihat dari kesimpulan Imam Al-Thabari dalam tafsirnya mengenai surat Al-’Alâ seperti disinggung sebelumnya. Keterangan lain yang penulis dapatkan adalah dalam Aisar Al-Tafasir, ditambahkan bahwa suhuf Ibrahim itu terdiri dari 10 buah. Sedangkan dalam tafsir Al-Zamakhsyary, disebutkan bahwa suhuf Nabi Ibrahim terdiri dari 30 buah suhuf, sepuluh pokok tentang pertaubatan, sepuluh pokok tentang ciri-ciri mukmin, dan sepuluh pokok lainnya tentang konsekwensi keimanan.

Kesimpulan
Ushul dakwah –dalam pengertian materi-materi yang didakwahkan, dapat kita simpulkan dalam Taurat, Zabur, Injil dan Suhuf adalah sebagai berikut:
  1. Semua kitab dan suhuf berisi ajaran Tauhid, pengesaan Allah, dan peniadaan makhluk yang serupa, kemustahilan Allah untuk beranak dan diperanakkan.
  2. Kitab yang berisi syari’at adalah suhuf ibrahim (yang tanpa nama), Taurat, Injil, dan Al-Quran. Syari’at yang termaktub dalam suhuf Ibrahim, belum mengatur tata masyarakat dan memberikan tahap awal ajaran Tauhid yang diperlukan oleh tata masyarakat. Sedangkan Taurat, selain berisikan tentang ajaran Tauhid, berisi juga tentang hukum rajam, mencuri, makanan yang halal dan haram, tentang proses penciptaan alam (kesaksian Al-Quran dan Injil Barnaba), dan pengkhianatan Yahudi terhadap kematian para nabi sebelum Isa (kesaksian Al-quran dan Injil sheperd of Hermas). Suhuf Musa, dalam sebuah riwayat tidak disebutkan jumlah ashfar-nya. Sedangkan shuhuf Ibrahim seperti dalam tafsir Al-Zamakhsyary, disebutkan terdiri dari 30 buah suhuf, sepuluh pokok tentang pertaubatan, sepuluh pokok tentang ciri-ciri mukmin, dan sepuluh pokok lainnya tentang konsekwensi keimanan.
  3. Kitab Zabur terdiri dari 150 surat keseluruhannya berisi wejangan dan sanjungan terhadap Allah SWT. Suhuf Musa yang tidak disebutkan ashfar-nya itu merupakan penjelas dari Taurat.
  4. Kitab Injil berisi pelurusan-pelurusan Taurat yang telah disimpangsiurkan oleh Yahudi. Selain itu, Injil juga berbicara tentang penguatan hukum-hukum syari’at yang ada dalam Taurat. Namun Injil tidak memuat syari’at baru, selain syari’at yang telah ditetapkan Allah dalam Taurat. Sebagai mana taurat, Injil ditulis dalam bahasa Ibrani.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Thabary, Tafsir Al-Thabary, Maktab Al-Syamilah, Ishdar Al-Tsani.
Aisar Al-Tafâsir, Maktab Al-Syamilah, Ishdar Al-Tsani.
Al-Bayanun, Madkhol ilâ ilm al-dakwah.
Al-Faruqi, et.al, 2000. Atlas Budaya Islam: Menjelajah Khasanah Peradaban Gemilang, Mizan: Bandung,
Al-Quran Al-Karim, Terjemah Depag, hal. 643.
Al-Zamakhsyary, Tafsir Al-Zamakhsary, Maktab Al-Syamilah, Ishdar Al-Tsani
Bukhari, Shahîh Al-Bukhari, Maktab Al-Syamilah, Ishdar Al-Tsani
Ibnu ’Âsyûr, Tafsir Li Ibn Asyur, Maktab Al-Syamilah, Ishdar Al-Tsani.
Ibnu Hajar Al-‘Asyqolani, Fathul Bâri, Bab Firman Allah, “Dan Kami berikan Daud Zabur”, Maktab Al-Syamilah, Ishdar Al-Tsani.
Ibnu Hibban, Sahîh Ibn Hibban, Maktab Al-Syamilah, Ishdar Al-Tsani
Ibnu Katsir, Tafsir Al-Quran Al-’Adhim, Maktab Al-Syamilah, Ishdar Al-Tsani
Imam Malik, Muwattha, Maktab Al-Syamilah, Ishdar Al-Tsani
Bucaille, Maurice, Dr., 1991. Bibble, Quran, dan Sains Modern, Pustaka Pelajar, Jakarta.
Rahim, Muhammad Ataur .1994. Misteri Yesus dalam Sejarah, Pustaka Da’i: Jakarta
www.wikipedia.org,  Perjanjian Lama: 1

[1] Tafsir Ibn Âsyûr, Al-Maidah ayat 3, hal. 107. [2] Ibid. Kelihatanya Al-Thabari mengambil hadits bil makna dari Musnad Ahmad, dengan redaksi yang sedikit berbeda, pada juz 35, hal. 4, hadits No. 16517.
[3] Al-Bayanun, Madkhol ilâ ilm al-dakwah, hal. 54.
[4] Al-Faruqi, et.al, Atlas Budaya Islam: Menjelajah Khasanah Peradaban Gemilang, Mizan: Bandung, 2000, hal. 131.
[5] Bright, The History of Israel, dalam Al-Faruqi, ibid.
[6] Sheller, et.al., Rahasia Bible (Al-Kitab) yang Terakhir, dalam Muhammad Ataur Rahim, Misteri Yesus dalam Sejarah, Pustaka Da’i: Jakarta,  1994, hal. VII-XX.
[7] Ibnu Hibban, Sahîh Ibn Hibban, Bab Tentang Ta’at dan Balasannya, Juz 2, hal. 213, No. 5726.
[8] Thabari, Tafsir Surat Al-Najm, 36. hal. 527.
[9] Ibnu ’Âsyûr, Tafsir Surat Al-Najm, 36.
[10] Ibnu Katsir, Tafsir Surat Al-Najm, 36.
[11] Al-Quran Al-Karim, Terjemah Depag, hal. 643.
[12] Aisar Al-Tafâsir, Tafsir Surat Al-Najm, 36.
[13] Al-Zamakhsyary, Tafsir Surat Al-Najm, 36.
[14] Thabari, Tafsir Surat Al-‘Ala, ayat 19.
[15] Imam Malik, Muwattha, Bab Riwayat Mengenai Kiamat, Juz 1, hal. 327. Hadits No. 222.
[16] Imam Malik, Muwattha, Bab Riwayat Mengenai Hukum Rajam, Juz 5, hal. 175. Hadits No. 1288. Shahih Al-Bukhari, Bab Tafsir Ayat ‘Ya’rifuna Kama Ya’rifuna Abna-akum’, Juz 11, Hal. 465, Hadits No. 3363.
[17] Bukhari, Shahîh Al-Bukhari, hadits No. 1981.
[18] Bukhari, Shahîh Al-Bukhari, hadits No.4125.
[19] Bukhari, Shahîh Al-Bukhari, hadits No.3141
[20] Bukhari, Shahîh Al-Bukhari, hadits No.905
[21] Ibnu Hajar Al-‘Asyqolani, Fathul Bâri, Bab Firman Allah, “Dan Kami berikan Daud Zabur”, Juz 13, Hal. 214, Hadist No. 3164.
[22] Ridenour, Dapatkah Al-Kitab Dipercaya?: 85
[23] www.wikipedia.org,  Perjanjian Lama: 1
[24] Kannengiesser dalam Bucaille, Bibble, Quran, dan Sains Modern: hal. 120.
[25] Lihat hadits riwayat Bukhari, Rasulullah bersabda, “KaumTaurat diberi Taurat, kemudia mereka mengamalkannya. Kaum Injil diberi injil, kemudian mereka mengamalkannya. Dan kalian diberi Al-Quran, kemudian kalian mengamalkannya. Shahih Bukhari, Bab Firman Allah, “Datangkanlah Taurat dan kemudian bacalah”. Juz 23, hal. 63, Hadits. No. 6979..

Selasa, 07 Juni 2011

HUKUM MENGKAFIRKAN SESAMA ISLAM!

I. Asal Mula Takfir
Definisi takfir, yaitu memvonnis atau mensifati seseorang dengan kekafiran, atau mensifatinya dengan hukum kafir, baik dengan alasan yang benar ataupun tidak. Karena itu, takfir merupakan hukum syari'at yang merupakan wewenang Allah dan Rasul-Nya, kita tidak boleh menolaknya.Tetapi masalah utamanya terletak pada sikap ekstrim dalam takfir (mengkafirkan), Karena itu, ada orang yang boleh dikafirkan, ada juga yang tidak boleh dikafirkan.

Ada banyak sebab mengapa terjadi fitnah tentang masalah takfir, beberapa diantaranya yaitu :

[1]. Semangat keagamaan yang ada pada para pemuda, namun tidak diimbangi pemahaman terhadap syari’at.

[2]. Semangat buta ini dimanfaatkan oleh orang-orang/kelompok yang mengatasnamakan agama untuk kepentingan hawa nafsunya, dengan mengarahkan mereka untuk mengkafirkan sesama muslim

[3]. Campur tangan pihak yang memusuhi Islam yang memanfaatkan situasi ini dengan mengarahkan para pemuda itu untuk melakukan pentakfiran


II. Definisi Kafir dan Jenisnya

Kafir menurut bahasa bermakna menutupi, sehingga seorang yang murtad dari Islam disebut kafir karena dia telah menutupi kebenaran atau karena kekafirannya itu, dia menutupi apa yang seharusnya dia imani.

Kafir menurut syari‘at terbagi menjadi dua kategori, yaitu :

Pertama, Kafir akbar yang mengeluarkan seseorang dari Islam dan menyebabkan pembuatnya kekal dalam neraka selama-lamanya.
Kafir akbar terbagi kepada 5 jenis:

a) Kafir Takzib (pendustaan)
Kekafiran jenis ini berbentuk mendustakan ajaran yang dibawa oleh para Rasul. Hati dan lisannya mengingkari ajaran para Rasul. Ini sebagaimana firman Allah SWT :
Dan (Ingatlah) hari (ketika) kami kumpulkan dari tiap-tiap umat segolongan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami, lalu mereka dibagi-bagi (dalam kelompok-kelompok). Hingga apabila mereka datang, Allah berfirman: "Apakah kamu telah mendustakan ayat-ayat-Ku, padahal ilmu kamu tidak meliputinya, atau apakah yang telah kamu kerjakan?". (QS. An Naml : 83-84)

b) Kafir iba’ wal istikbar (keengganan dan kesombongan)
Kekafiran ini berbentuk pengakuan kebenaran ajaran Islam, tetapi tidak mau tunduk kepadanya karena kesombongan. Kekafiran ini adalah sama seperti kekafiran iblis. Iblis tidak menolak kebenaran Allah SWT sebagai Rabb yang berhak disembah dan dipatuhi perintah-Nya. Namun penentangan iblis disebabkan kesombongannya, sebagaimana yang telah diuraikan dalam Al-Qur’an:
Dan (Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam," Maka sujudlah mereka kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS. Al Baqaráh : 34)

c) Kafir I’radh
Kekafiran ini berbentuk tidak membenarkan dan tidak pula mendustakan Islam, tidak mencintainya dan tidak memusuhinya serta sama sekali tidak mau memperhatikan dan mendengarkannya. Ini disebutkan dalam Al Qur'an :
Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka berpaling, tidak mau mendengarkan. .(QS. Fushshilat : 3-4)

d) Kafir Syak (keraguan)
Ini adalah golongan yang senantiasa ragu akan kebenaran Islam

e) Kafir Nifaq
Kekafiran seperti ini menampakkan keimanan dengan lisan dan perbuatan namun hatinya kafir (orang munafiq), sebagaimana yang difirmankan oleh Allah SWT :
Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian," padahal mereka sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. (QS.Al Baqarah : 8)

Kedua, Kafir ashgar, tidak mengeluarkan dari Islam meskipun diistilahkan kufur. Hal ini terjadi jika seseorang tidak melakukan suatu perintah agama, akan tetapi dia tetap menyakini akan kewajiban perintah tersebut. Contohnya adalah orang yang menyakini kewajiban membayar zakat harta, tetapi karena sibuk mengejar kehidupan duniawi dia tidak membayar zakar tersebut.
Demikian juga, bila seseorang itu tidak meninggalkan suatu larangan agama, tetapi dia tetap menyakini akan haramnya hal tersebut. Contohnya orang yang menyakini haramannya hukum khamr, tetapi karena kebiasaannya minum sekian lama, dia sulit mengubahnya secara langsung melainkan secara bertahap
Berkata Imam Abu Hanifah rahimahullah dalam kitab Fiqh al-Akbar :

Kita tidak boleh mengkafirkan seorang muslim dengan setiap dosa, meskipun dosa besar. Kecuali ada unsur menganggap halal maksiat itu. Kita juga tidak menghilangkan akar iman darinya, dia masih disebut orang beriman secara hakiki atau seorang mukmin yang fasik (tetapi) tidak kafir.

Menurut Imam Abu Ja’afar al-Thahawi rahimahullah:
Kita tidak mengkafirkan seorangpun ahlul kiblat karena dosa-dosa yang dilakukan, selama dia tidak menghalalkan perbuatan dosa tersebut.

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz melanjutkan:
Namun apabila pembuatnya menganggap halal perbuatannya, maka mereka termasuk kafir karena statusnya telah mendustakan Allah dan Rasul-Nya serta keluar dari agama. Apabila mereka tidak menganggap halal perbuatan dosanya, maka mereka tidak dikafirkan, tetapi mereka dianggap seorang yang lemah imannya...

Hal ini termasuk tindakan kebanyakan pemerintah Muslim saat ini yang tidak melaksanakan hukum Allah. Berkata Imam Ibnu Abil ‘Izzi ‘Abdis Salaam dalam kitab Syarhul Aqidah ath-Thahawiyah :
...bahwa berhukum dengan selain yang diturunkan Allah kadang-kadang bisa menjadi kafir yang mengeluarkan pembuatnya dari Islam (kafir akbar) dan kadang-kadang bisa menjadi maksiat . Hal itu disesuaikan dengan keadaan pelaksana hukum itu.
Jika dia meyakini bahwa berhukum dengan selain yang diturunkan Allah adalah tidak wajib padahal dia diberi kebebasan (untuk berhukum dengannya) atau dia menghina hukum Allah, maka ini adalah kafir akbar.
Syaik Ibnul Qoyyim dalam kitab Ash-Shalah menuturkan, kufur terbagi dua jenis, yaitu :

1.Kufur yang mengeluarkan dari agama, yaitu kufur yang berlawanan dengan iman dalam semua aspek. Orang seperti ini harus dinasihati dan jika menolak maka baru divonis sebagai kafir

2.Kufur yang tidak mengeluarkan dari agama, yaitu kufur yang tidak mengeluarkan dari agama namun termasuk perbuatan maksiat.
Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir (QS. Al Maidah : 44)

III. Syarat Pengkafiran

Pertama: Baligh dan berakal.
Orang yang belum baligh dan orang yang tidak sempurna akalnya tidak dijatuhkan hukuman. Ini berdasarkan sabda Nabi SAW:
Diangkat pena (tidak dicatat kesalahan) dari tiga orang, yaitu anak kecil hingga baligh, orang tidur hingga terbangun dan orang gila hingga sadar. (HR. Abu Dawud)
Ibnu Qudamah dalam kitabnya al-Mughni berkata:
Hukum murtad tidak berlaku bagi orang yang tidak berakal seperti anak kecil, orang gila, atau orang yang hilang kesedaran akibat pingsan, tidur, sakit, dan minum obat yang boleh diminum.

Kedua: Perbuatan kafir dilakukan dengan sengaja.
Ucapan atau perbuatan yang membawa kepada kekafiran hendaklah dilakukan dengan kerelaan hati atau kehendak sendiri. Ia bukan satu perbuatan yang terpaksa, tak sengaja atau di luar kesadaran. Allah SWT berfirman:
dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Al Ahzab : 5).

Ketiga: Diberikan nasihat kepadanya
Tidak boleh menghukumi kafir terhadap seseorang selagi belum disampaikan informasi/nasihat kepadanya bahwa perbuatannnya bisa mengakibatkan kekafiran. Berkata Imam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa :
Ucapan (yang mengakibatkan) kafir mungkin saja datang dari orang yang belum sampai kepadanya nash (hujah dan dalil) untuk mengenali kebenaran. Atau boleh jadi telah sampai (nash tersebut) tetapi hujah tersebut dipandang tidak benar atau belum mungkin baginya untuk memahaminya atau ada syubhat dalam proses memahami kebenaran. Maka dalam kondisi seperti ini Allah memaafkan……
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:
dan kami tidak akan meng'azab sebelum kami mengutus seorang rasul (QS. Al Isra : 15)
(mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. An Nisaa : 165)
Syarat yang ketiga ini penting, karena muslim minoritas yang tinggal di sebuah negara mayoritas non muslim. Sulit untuk mereka mempelajari ilmu-ilmu Islam karena jauh dari ulama’, Maka orang Islam minoritas ini tidak dihukumkan kafir jika melakukan perbuatan yang asalnya bisa membawa kepada kekafiran.
Ini karena Allah Subhanahu wa Ta‘ala telah berfirman:
Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu[1480]. dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, Maka mereka Itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Ath Taghabuun : 16)
Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, kami tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka Itulah penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. (QS. Al A'raaf : 42)
Berdasarkan ayat-ayat di atas, Allah tidak membebani seseorang melebihi kemampuannya. Karena itu jika seseorang itu telah berusaha maksimal untuk mencari kebenaran dalam Islam namun masih terdapat kekurangan atau kesalahan tanpa disengaja sehingga dia melakukan perbuatan yang kafir, maka Allah tidak akan menghukumnya, tetapi mengampuni kesalahannya.

Keempat: Perbuatan diukur dari segi zahirnya.
Setiap muslim diadili berdasarkan apa yang terlihat pada zahir dirinya. Adalah hadits berikut dari Usamah bin Zaid ra. :
Rasulullah SAW pernah membawar kami pada satu peperangan, pada pagi hari kami menyerbu al-Huraqaat (nama sebuah kabilah) dari kabilah Juhainah. Maka aku bertemu dengan seorang lelaki lalu dia berkata: “Laa ilaha illallah” kemudian aku menusuknya (membunuhnya). Akan tetapi aku merasa ada sesuatu dalam hatiku dari kejadian itu, lalu aku menceritakannya kepada Rasuliullah shallallahu 'alaihi wasallam. Maka baginda berkata: “Apakah dia telah mengatakan Laa ilaha illallah kemudian kamu membunuhnya?” Aku menjawab: “Ya wahai Rasulullah, sesungguhnya dia mengatakan hal itu hanya karena takut kepada pedangku. Baginda bertanya (menegaskan kesalahan tindakan Usamah): “Mengapa kamu tidak membelah dadanya sehingga kamu mengetahui apakah benar-benar dia mengatakannya (dengan jujur) atau tidak?”. (HR. Muslim)
Berdasarkan hadits di atas, maka sewajarnya kita tidak memudahkan dalam mengkafirkan orang lain selagi zahirnya masih menunjukkan bahwa dia seorang muslim.Ini sebagaimana pesan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam:
Akan ada sepeninggalku nanti pemimpin (yang) kalian mengenalnya dan mengingkari (kezalimannya), maka barangsiapa mengingkarinya (berarti) dia berlepas diri dan barangsiapa membencinya (berarti) dia selamat. Akan tetapi barangsiapa yang meridhainya (berarti) mengikutinya. Para sahabat bertanya: “Apakah tidak kita perangi mereka (pemimpin tersebut)?” Baginda menjawab: “Jangan, selagi mereka masih shalat.” (HR. Muslim)

Kelima: Kekafiran memiliki cabang-cabangnya.
Sebagaimana iman memiliki cabang-cabangnya, kekafiran juga memiliki cabang-cabangnya. Di antara cabang-cabang kekafiran ada yang bisa menyebabkan pelakunya keluar dari Islam dan ada yang tidak. Contohnya mengatakan Nabi Isa as. adalah anak tuhan atau tuhan itu bertiga (Trinity) jelas mengeluarkan pelakunya dari Islam. Sedangkan peminum arak atau penzina hanya dihukumi sebagai seorang yang fasiq (pelaku dosa besar),

IV. Dampak dan Bahaya Takfir

1.Takfir (kafir mengkafir) membawa akibat yang amat buruk terhadap kesatuan umat, dan bisa menyebabkan terjadinya pertumpahan darah sesama muslim. Maka dari sisi syari‘at Islam, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan jika seseorang dinyatakan kafir :
1.Isterinya tidak dihalalkan lagi bagi dirinya (yang telah kafir), diharamkan untuk isterinya berada di sampingnya dan anak-anaknya berada dibawah perwaliannya.
2.Bagi yang telah dituduh kafir, maka seharusnya dia dibawa ke muka pengadilan dan dijatuhkan hukum murtad ke atasnya setelah diajukan hujjah dan bukti keterangan akan kekafirannya.
3.Bagi mereka yang telah jatuh kafir, apabila mereka meninggal dunia maka tidak berlaku lagi hukum-hukum yang diwajibkan ke atas seorang muslim seperti dimandikan jenazahnya, disembahyangkan jenazahnya, mayatnya tidak boleh dikuburkan di kawasan perkuburan Islam dan hartanya tidak dapat diwarisi oleh ahli keluarganya.

Syaikh Abdil Aziz bin Abdullah bin Bazz rahimahullahu berkata, sebagaimana termuat dalam harian al-Jazirah, ar-Riyadh, asy-Syirqul Awsath, Sabtu 22/6/1412 H. tentang bahaya takfir, diantaranya :

1.Merusak hak-hak kaum muslimin
2.Memecah belah ukhuwah Islamiyyah, padahal Alloh SWT memerintahkan ukhuwah dan menjauhi perpecahan
3.Membantu dan menolong orang/kelompok yang menyimpang seperti kaum yahudi, nashrani, atheis, sekuler, hedonis, paganis dan lainnya yang selalu memerangi kaum muslimin.
4.Menyebabkan rusaknya hati dengan menyebarkan dan mengedarkan dusta dan kebathilan, sehingga terjadi ghibah, namimah, tajassus, hasad dan ghadab.
5.Terpedaya tipuan syetan
6.Tidak menghormati ulama yang telah berijtihad dengan kadar keilmuan yang cukup

Menyadari betapa bahayanya dampak takfir, maka Islam melarang keras hal ini. Firman Alloh SWT :
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim (QS. Al Hujurat : 11)

Takfir termasuk kezaliman yang membinasakan. Nabi SAW bersabda :
Tidak boleh seseorang menuduh orang lain dengan kefasikan dan tidak pula dia menuduhnya dengan kekafiran, melainkan hal ini akan kembali kepadanya jika orang yang tertuduh tidak demikian (HR. Bukhari)

Apabila seseorang mengatakan kepada saudaranya, “Wahai Kafir!”, maka hal ini akan kembali kepada salah seorang daripada kedua-duanya (HR. Bukhari)

Imam al-Ghazali telah berkata dalam kitabnya Al-Iqtishad fil ’tiqad:
Sesuatu yang patut kita berhati-hati adalah masalah pengkafiran, selagi masih ada jalan untuk berhati-hati. Karena menghalalkan darah dan harta orang yang shalat menghadap kiblat dan yang menyatakan kalimat “Laa ilaaha illalloh” adalah suatu kesalahan.

Mengkafirkan seorang muslim yang lain diumpamakan dengan membunuhnya, sebagaimana dikatakan oleh Al ‘Alla’ bin Ziyad, seorang tabi’in :
“Tidak ada bedanya antara kamu mengkafirkan seorang muslim dengan membunuhnya"

1.Mengkafirkan muslim yang lain merupakan hal yang serius, sebagaimana dijelaskan Imam Ibnu Abil ‘Izzi ‘Abdis Salam al-Hanafi:
Ketahuilah –semoga Allah merahmati kamu- bahwa masalah pengkafiran merupakan masalah yang sangat besar fitnah dan musibahnya, banyak perpecahan yang terjadi di dalamnya, berselisihnya hawa nafsu dan pendapat tentangnya dan telah terjadi pertentangan antara alasan-alasan mereka…… Sesungguhnya sebesar-besar bentuk kejahatan adalah menuduh individu tertentu bahwa Allah tidak akan mengampuninya dan tidak akan merahmatinya, bahkan Allah akan mengekalkannya dalam neraka (karena yang demikian adalah) hukum bagi orang kafir setelah mati.

Kesimpulannya, jika dalam diri seseorang itu terdapat beberapa ciri kekafiran, sikap kita bukanlah mengkafirkannya tetapi berusaha mencari jalan agar dia terhindar darinya. Berilah nasihat dan bukalah ruang untuk berfikir dan memperbaiki diri, sekalipun secara bertahap. Firman Allah SWT :
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An Nahl : 125)

V. Cara Menghindari Pentakfiran

Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr memberi nasihat :

Pertama, Hendaknya ia merasa takut kepada Allah, dengan menyibukan diri melihat aib-aibnya, dari pada ia sibuk denga aib orang lain, dan menjaga keberlangsungan amal shalehnya, jangan sampai ia membuangnya sia-sia.

Kedua, Hendaklah ia menyibukan dirinya dengan mencari ilmu yang bermanfaat, diantara belajar, mengajar, berda'wah dan menulis. Jika ia mampu melakukan hal yang demikian maka hendaknya ia menjadi golongan yang membangun, dan tidak menyibukkan dirinya dengan mencela sesama muslim sehingga ia menjadi golongan penghancur.

Sumber :

1.Al-‘Aqidah ath-Thahawiyah, edisi terjemahan terbitan Jahabersa, Johor Bahru 2001
2.Aqwalu wa Fatawa Ulama fi tahdzir 'ala Jama'atil Hajr wat Tabdi, alih bahasa oleh Abu Salma bin Burhan.
3.Bahaya tafsiq, takfir dan tabdi', Sholih bin Fauzan al-Fauzan, Pustaka Imam Bukhori.
4.Kafirkah Orang Yang Berhukum Dengan Selain Hukum Allah?, Dr. Khalid bin Ali bin Muhammad al- Anbary, alih bahasa oleh Abu Abdirrahman al-Salafy, Pustaka As-Sunnah, Surabaya 2004
5.Manhaj Ahli Sunnah Menghadapi Ahli Bid’ah, Dr. Ibrahim bin Amir ar-Ruhaili, alih bahasa oleh Abu Ahmad Syamsuddin, Pustaka al-Kautsar, Jakarta 2002
6.Rifqon Ahlas Sunnati bi Ahlis Sunnah, alih bahasa oleh Abul Hasan al-Maidani , judul Berlemah Lembut Sesama Ahlus Sunnah
7.Majalah As-Sunnah Edisi 11/Tahun VIII/1425H/2005M Rubrik Liputan Khusus yang diangkat dari ceramah Syaikh Abu Usamah Salim bin Ied Al-Hilali Tanggal 5 Desember 2004 di Masjid Istiqlal Jakarta

*Diambil dari Notes Facebook milik Ustadz Suherman: abi_cintaku@yahoo.com

Senin, 23 Mei 2011

Tips Agar Cepat Mendapatkan Jodoh


Siapakah jodoh kita, kapan waktunya tiba, di mana akan dipertemukan, apakah ia benar-benar orang shaleh/ shalehah?. Semua itu rahasia Allah SWT.

Allah SWT menetapkan tiga bentuk taqdir dalam masalah jodoh. Pertama, cepat mendapatkan jodoh. Kedua, lambat mendapatkan jodoh, tapi suatu ketika pasti mendapatkannya di dunia. Ketiga, menunda mendapatkan jodoh sampai di akhirat kelak. Apapun pilihan jodoh yang ditentukan Allah adalah hal terbaik untuk kita. Allah SWT berfirman: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (QS. Al Baqarah: 216).

Kita harus terikat aturan Allah. Kita juga dibekali akal untuk memahami aturan-Nya. Ketika kita memutuskan untuk taat atau melanggar aturanNya adalah pilihan kita sendiri. Bagaimana cara kita untuk mendapatkan jodoh adalah pilihan kita. Dengan jalan yang diridhoiNya atau tidak. Tetapi hasil akhirnya Allah yang menentukan.

Berikut ini ada beberapa tips agar cepat mendapatkan jodoh bagi anda yang sampai saat ini belum mendapatkan jodoh untuk menikah:

1. Tentukan terlebih dahulu kriteria pasangan ideal

Nabi bersabda: ”Apabila datang kepada kalian lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya,maka nikahkanlah ia (dengan puteri kalian). Sebab jika tidak, maka akan terjadi fitnah dibumi dan kerusakan yang besar”. "Lelaki yang bertaqwa akan mencintai dan memuliakan istrinya. Jika ia marah tidak akan menzhalimi istrinya. Kaum jahiliyah menikah dengan melihat kedudukan, kaum Yahudi menikah dengan melihat harta, kaum Nasrani menikah dengan melihat rupa, sedangkan umat Islam menikahkan dengan melihat agama".

Nabi bersabda:"Sesungguhnya dunia seluruhnya adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita (isteri) yang sholehah”. Beliau juga bersabda, ”Wanita dinikahi karena empat faktor, yakni karena harta kekayaannya, karena kedudukannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Hendaknya pilihlah yang beragama agar berkah kedua tanganmu.”

Sulit mencari jodoh bisa jadi karena kriteria terlalu muluk. Janganlah kita menginginkan kesempurnaan orang lain, padahal diri kita tidak sempurna.

2. Memperluas Pergaulan Sesuai Syariat

Seringlah bersilaturrahim ke tempat saudara atau mengikuti majelis ta'lim. Ustadz, teman, orang tua, saudara, keluarga, dan yang lain Insyaallah pasti bisa diminta bantuan.

3. Sebisa mungkin hindari berpacaran

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Israa’: 32). Kita dilarang berkhalwat, memandang lawan jenis dengan syahwat, wanita bepergian sehari semalam tanpa muhrim, dll.

Biasanya, orang pacaran selalu menutupi kekurangannya dan menampilkan yang baik-baik saja. Cari informasi dari orang dekatnya (saudara, teman, tetangganya). Perlu juga penilaian dari orang tua dan keluarga kita. Biasanya kita tidak dapat melihat kekurangan orang yang kita cintai.

4. Perbanyak introspeksi diri

Jika kita ingin mendapatkan jodoh yang shaleh, maka kita harus menjadi orang yang shaleh juga. Allah SWT berfirman: “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula}” (QS. An Nuur: 26).

Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat pada bentuk-bentuk (lahiriah) dan harta kekayaanmu, tapi Dia melihat pada hati dan amalmu sekalian. " (HR. Muslim, Hadits no. 2564 dari Abu Hurairah). Jadi, lelaki atau wanita yang baik menurut pandangan Allah itu adalah lelaki atau wanita yang baik iman dan amalnya.

Secara lahiriah kita perlu menjaga kebersihan, kerapihan dan menjaga bau badan. Bukan berdandan berlebihan (tidak Islami), tapi tampil menarik.

5. Jangan Mencintai Secara Berlebihan

“Barangsiapa memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan menikah karena Allah, maka sempurnalah imannya. (HR. Abu Dawud)

Jika kita mencintai manusia lebih daripada Allah, niscaya hati kita akan hancur dan putus asa jika ditinggalkan. Jika kita mencintai Allah di atas segalanya, niscaya kita akan selalu tegar dan tabah karena kita yakin bahwa Allah itu Maha Hidup dan Abadi serta selalu bersama hamba yang Sholeh.

6. Jika Gagal Berusaha Lagi

Jika kita gagal, jangan putus asa dan minder. Kita harus sabar dan tetap berusaha mendapatkan yang lebih baik lagi. Yakinlah ada yang lebih baik yang sedang dipersiapkan Allah untuk kita.

Para sahabat besarpun mengalaminya. Contohnya Utsman RA yang melamar putri Abu Bakar ditolak, lalu melamar putri Umar juga ditolak, akhirnya malah menjadi menantu Rasulullah SAW.

Jodoh tidak akan lari dan akan datang pada waktunya. Bersabarlah dan sibukkan diri dengan amal sholeh. Hadapilah dengan sikap tenang, santai, tidak mudah emosi/sensitif, tidak larut dalam kesedihan, tidak berputus asa dan tetap bersemangat.

Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh menakjubkan kondisi seorang mukmin. Segala keadaan dianggapnya baik, dan hal ini tidak akan terjadi, kecuali bagi seorang mukmin. Apabila mendapat kesenangan ia bersyukur, maka itu tetap baik baginya dan apabila ditimpa penderitaan ia bersabar maka itu tetap baik baginya.” (HR Muslim)

Gunakan energi kita untuk lebih mendekatkan diri dan mencintai Allah SWT., orang tua, dan umat. Yakinlah dengan keadilan-Nya bahwa setiap manusia pasti memiliki jodoh masing-masing. Yakinlah bahwa semua kondisi adalah baik, berguna, dan berpahala bagi kita.

7. Siap menerima taqdir Allah

Hidup adalah ujian. Bisa saja, takdir jodoh kita bukan orang shaleh. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman. Sesungguhnya di antara pasanganmu dan anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka… Sesungguhnya hartamu dan anakmu, hanyalah ujian bagimu, dan di sisi Allah pahala yang besar.” (Q.S. At-Taghaabuun: 14-15)

Hal tersebut tetap bisa menjadi kebaikan apabila dijadikan sebagai lahan amal shaleh dan batu ujian untuk meningkatkan keimanan, tawakal, dan kesabaran.

8. Wanita bisa melamar lelaki

Bukan hal yang dilarang jika wanita menemukan lelaki sholeh dan berinisiatif menawarkan diri dalam pernikahan melalui peran orang yang dipercaya. Khadijah RA melalui pamannya melamar Nabi Muhammad SAW setelah mengetahui akhlak dan agama beliau.

9. Taqarrub Ilallah

Perburuan jodoh secara syar’i adalah dengan mendekati Allah super ekstra. Caranya dengan bertawasul amal-amal shaleh, tidak hanya ibadah wajib (berbakti kepada orangtua, sholat wajib), juga ibadah sunnah (shoum sunnah, sholat tahajjud/ taubat/ istikhoroh/ hajat/ witir/d huha, tilawah Al Qur’an, istighfar, infaq, dan lain-lain). Semakin dekat dengan Allah, iman bertambah dan do’a kita semakin terkabul. Usaha yang konsisten, optimis dan prasangka baik akan memudahkan jalan kita.

10. Tidak putus asa dan selalu berdoa

Bacalah doa: “Ya Rabb kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al Furqon: 74).

Doa lebih terkabul pada tempat mustajab, waktu mustajab dan memperhatikan adab berdoa. Berdoalah menurut apa yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya. Tempat mustajab: masjid, majlis ta’lim, Arafah, Hajar Aswad, Hijr Ismail, di atas sajadah, dll.

Waktu mustajab seperti sepertiga malam yang akhir, selesai sholat wajib/tahajjud/hajat, saat sujud/I’tidal terakhir dalam sholat, sedang berpuasa, berbuka puasa, dalam perjalanan, selesai khatam qur’an, hari Jum’at, baru mulai hujan, diantara azan dan iqamat, ketika minum air zamzam, bulan ramadhan/lailatul qodar, antara zuhur dan ashar juga antara ashar dan maghrib, selesai sholat subuh, dalam kesulitan, sedang sakit, sedang ada jenazah.

Adab berdoa seperti menjauhkan hal yang haram, ikhlas, diawali dan diakhiri tahmid/sholawat, menghadap kiblat, suci dari hadats dan najis, khusyu’ dan tenang, menengadahkan kedua tangan, dengan suara rendah dan pengharapan sepenuh hati, mengulangi berkali-kali, tidak berputus asa, menghadirkan Allah dalam hati, tidak meninggalkan sholat wajib, tidak melakukan dosa besar, tidak minta sesuatu yang dilarang Allah, sambil menangis.

Nabi Musa as berdoa setelah menolong dua perempuan penggembala kambing: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku." (QS 28:24). Allah SWT memahami keperluan dan prioritasnya, sehingga tidak saja memberi makanan, tapi juga memberi jodoh, tempat tinggal dan pekerjaan. Wallahu’alam bishawab.


Ummu Hafizh dalam Suara Islam

Minggu, 15 Mei 2011

LIDAH TIDAK BERTULANG

Mungkin judul di atas tidak berlebihan jika kita lihat realita yang ada sekarang. Anggota tubuh sekecil lidah dan tampak lemah itu ternyata mampu menyakiti hati serta memberinya bekas yang dalam. Kadang orang tidak menyadari saat dia berbicara ternyata telah menyakiti hati orang lain. Baik pria ataupun wanita pasti pernah melakukannya baik sengaja ataupun tidak sengaja, namun yang paling sering melakukannya adalah kaum wanita. Perlu diketahui bahwa lidah bisa menjadi sebab seseorang masuk surga ataupun masuk neraka, karena tidak ada satu pun kata yang kita ucapkan kecuali ada malaikat yang menulisnya. Mungkin di dunia kita bisa mengingkarinya namun di akhirat nanti mulut akan dikunci dan anggota badan lain yang berbicara.
Ada beberapa perbuatan yang merupakan tanda rusaknya lidah, di antaranya adalah:
  • Dusta atau Berbohong.
Berdusta merupakan salah satu dosa besar yang membawa pelakunya kepada kejelekan, dan kejelekan akan membawa pelakunya pada neraka. Tidak ada bedanya berbohong saat serius ataupun sedang bercanda, kedua-duanya haram hukumnya. Berdusta sama sekali bukan akhlaq seorang muslim, karena dusta merupakan perbuatan yang sangat hina. Bahkan orang kafir Quraisy di zaman Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam pun sangat anti untuk berbohong karena bohong bagi mereka merupakan ‘aib. Siapa saja orang yang sering berdusta, maka Allah akan mencatatnya sebagai pendusta.
  • Ghibah atau Menggunjing.
Ghibah adalah membicarakan kejelekan atau ‘aib saudaranya ataupun kebaikannya yang mana jika saudaranya itu tahu, dia tidak menyukainya. Bahkan ada yang berpendapat bahwa jika saudaranya ada di majelis itu, juga disebut dengan ghibah. Jadi tidak hanya menceritakan kejelekan saudaranya saja disebut bid’ah, tapi juga kebaikannya jika orang yang dibicarakan tersebut tidak menyukainya. Orang yang menggunjing saudaranya, menyebutkan ‘aib-‘aibnya hingga jatuh harga dirinya maka dia telah berdosa.
Pelaku ghibah bagaikan memakan daging saudaranya dan mereka diancam dengan adzab di akhirat, yaitu kelak mereka akan mempunyai kuku-kuku yang terbuat dari tembaga yang digunakan untuk mencakar wajah dan dada mereka sendiri. Siapa yang sanggup menerimanya? Namun sangat disayangkan, tiap hari masyarakat disuguhi dengan tayangan infotainment atau gosip yang jelas-jelas merupakan ghibah. Namun Allah subhanahu wa ta’ala Maha Pengampun, Dia mengampuni segala dosa selama orang tersebut bertaubat dan minta ampun termasuk dosa ghibah. Jika kita terlanjur menggunjing seseorang, maka kafaroh atau tebusannya adalah meminta ampun kepada Allah untuk kita dan orang yang kita gunjing. Lafadz do’anya adalah “Allahummaghfirly wa lahu”. Kemudian kita berusaha mengangkat kembali nama baik saudara kita di majelis yang kita pernah menjatuhkan namanya. Namun ada pengecualian mengenai ghibah ini, yakni boleh memperingatkan orang lain dari seseorang yang jahat atau sesat supaya selamat.
  • Namimah atau Adu Domba.
Namimah sangat tercela, tidak ada yang bisa melakukannya kecuali dengan lisannya. Namimah adalah menukil ucapan seseorang kemudian disampaikan pada orang lain dengan tujuan merusak hubungan atau menimbulkan permusuhan di antara kedua orang tersebut. Perbuatan ini merupakan dosa besar yang pelakunya diancam tidak akan masuk surga. Ada sebuah kisah di zaman nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sedang berjalan dan melewati dua kuburan, ternyata penghuni kedua kuburan tersebut sedang disiksa karena dosa yang selalu mereka kerjakan. Yaitu yang satu suka berjalan di tengah manusia dengan menyebarkan namimah, dan satu lagi disiksa karena tidak menjaga dirinya dari najis ketika buang air kencing sehingga pakaian dan badannya terkena air kencing.
  • Suka Mencela.
Orang yang sering mencela orang lain biasanya terkumpul padanya akhlaq yang buruk, antara lain ujub yaitu bangga dengan dirinya sendiri, sombong yaitu menolak kebenaran dan mencela orang lain, tidak instropeksi diri, dan lain-lain. Allah Ta’ala dan Rosul-Nya melarang keras dari hal tersebut. Bahkan Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan bahwa mencela seorang muslim tanpa sebab yang dibenarkan adalah kefasikan.
Pernah dahulu ummul mukmunin ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha mencela ummul mukminin yang lain dengan menyebutnya ”pendek”. Dengan kata itu saja sudah membuat Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam marah, dan beliau bersabda bahwa kata-kata itu jika dimasukkan dalam lautan maka akan mencemarinya. Betapa buruknya perbuatan ini sampai Allah Ta’ala pun mencela perbuatan ini dengan surat az-Zalzalah. Mungkin tepatlah peribahasa “semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak”.
Itulah beberapa dari sekian banyak kerusakan lidah yang yang dapat berakibat buruk bagi pelakunya di dunia dan di akhirat. Hendaknya setiap diri kita berhati-hati dari terjatuh ke dalamnya, karena salah satu  sebab terbanyak seseorang masuk neraka adalah karena lidahnya. Kita mohon perlindungan dan keselamatan pada Allah subhanahu wa ta’ala.

Minggu, 20 Maret 2011

Internet dan Dunia Pendidikan

Jika saja kita di dunia pendidikan diijinkan untuk membangun infrastruktur Internet-nya sendiri. Jika saja alokasi dana tidak di korup, tidak di alokasikan untuk hal yang tidak-tidak. Jika saja para pejabat, pemimpin, rektor, kepala sekolah, ketua yayasan, mengerti arti keberadaan infrastruktur Internet. Pada dasarnya biaya yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur Internet di dunia pendidikan adalah sekitar Rp. 5000 / siswa / bulan.
Bahkan untuk perguruan tinggi, biaya tersebut dapat di tekan menjadi amat sangat murah dengan akses kecepatan tinggi 11Mbps. Investasi peralatan komputer, jaringan lokal, server umumnya dapat kembali dalam waktu 1-2 tahun saja. Jadi seluruh proses adalah swadaya masyarakat kampus, tidak perlu tergantung pada dana utangan dari ADB, IMF, Bank Dunia. Detail bisnis plan untuk investasi dan pengembalian modal infrastruktur Internet bagi dunia pendidikan dalam diperoleh secara gratis di,
atau langsung kepada penulis di onno@indo.net.id.
Walaupun secara finansial & teknologi sangat memungkinkan, ada dua (2) hal yang sangat menghambat perkembangan keberadaan Infrastruktur Internet untuk dunia pendidikan, yaitu:
  • Pimpinan yang lambat berfikir, dan lambat bereaksi terhadap perkembangan. Biasanya pimpinan tipe ini, takut atau tidak mau bergerak sebelum ada perintah dari DIKNAS.
  • Keberadaan teknisi, ahli yang mengerti menginstalasi, mengoperasikan dan memelihara infrastruktur Internet.
Khusus untuk point yang ke dua, sebetulnya kalau saja mau membaca-baca (Iqra) berbagai buku komputer yang ada di Gramedia sebetulnya tidak terlalu sukar untuk memperoleh keahlian yang dibutuhkan. Alternatif lain, jika telah terkait ke Internet, pengembangan keilmuan dapat dilakukan dengan cara aktif berpartisipasi dalam banyak mailing list yang membahas masalah Internet & keilmuan.
Kolom Onno Purbo
http://belajar.internetsehat.org/2010/12/17/internet-di-dunia-pendidikan/

Rabu, 16 Maret 2011

Makna Lambang Departemen Agama


1. Bintang bersudut lima yang melambangkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila, bermakna bahwa karyawan Departemen Agama selalu menaati dan menjunjung tinggi norma-norma agama dalam melaksanakan tugas Pemerintahan dalam Negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.
2. 17 kuntum bunga kapas, 8 baris tulisan dalam Kitab Suci dan 45 butir padi bermakna Proklamasi Kemerdekaan republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, menunjukkan kebulatan tekad para Karyawan Departemen Agama untuk membela Kemerdekaan Negara Kesatuan republik Indonesia yang diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945.
3. Butiran Padi dan Kapas yang melingkar berbentuk bulatan bermakna bahwa Karyawan Departemen mengemban tugas untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera, adil, makmur dan merata.
4. Kitab Suci bermakna sebagai pedoman hidup dan kehidupan yang serasi antara kebahagiaan duniawi dan ukhrawi, materil dan spirituil dengan ridha Allah SWT Tuhan Yang Maha Esa.
5. Alas Kitab Suci bermakna bahwa pedoman hidup dan kehidupan harus ditempatkan pada proporsi yang sebenarnya sesuai dengan potensi dinamis dari Kitab Suci.
6. Kalimat “Ikhlas Beramal” bermakna bahwa Karyawan Departemen Agama dalam mengabdi kepada masyarakat dan Negara berlandaskan niat beribadah dengan tulus dan ikhlas.
7. Perisai yang berbentuk segi lima sama sisi dimaksudkan bahwa kerukunan hidup antar umat beragama RI yang berdasarkan Pancasila dilindungi sepenuhnya sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945
8. Kelengkapan makna lambang Departemen Agama melukiskan motto : Dengan Iman yang teguh dan hati yang suci serta menghayati dan mengamalkan Pancasila yang merupakan tuntutan dan pegangan hidup dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, karyawan Departemen Agama bertekad bahwa mengabdi kepada Negara adalah ibadah.

Kamis, 03 Maret 2011

Bentuk dan Teori Hukuman dalam Pendidikan Anak

Hukuman yang diberikan kepada anak dalam pendidikan, karena kesalahan yang dilakukannya ada dalam bentuk yang bermacam-macam. Tidak kesemuanya patut dan dapat digunakan dalam mendidik seorang anak. Berikut kami paparkan beberapa bentuk hukuman tersebut, dan mana saja yang patut dihindari, agar tidak memberikan efek negatif dalam mendidik seorang anak.

Beberapa Teori Hukuman

1. Teori hukuman alam.
2. Teori hukuman balas dendam.
3. Teori hukuman ganti rugi.
4. Teori hukuman menakut-nakuti.
5. Teori hukuman memperbaiki.[1]



Teori hukuman alam

Teori hukuman alam tersebut mempunyai pandangan bahwa hukuman buatan itu tidak perlu diadakan seperti hukuman yang diberikan secara sengaja oleh seseorang kepada orang lain yang melakukan kesalahan atau pelanggaran, tetapi hendaknya anak dibiarkan berbuat salah atau pelanggaran biar alam sendiri yang akan menghukumnya.

Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Umar Muhammad Al-Taumy Al-syaibany bahwa “ alam natural bukan saja mencakup segala mahluk yang akan tetapi juga merangkum sistem, peraturan atau undang-undang alam yang semua bagian alam tunduk kepada dasar-dasarnya dan sesuatu itu terjadi atau berlaku mengikuti ketentuan persyaratan disekelilingnya.[2]

Pandangan teori hukum alam ini menyatakan bahwa hukuman alam tersebut merupakan hukuman yang wajar dan logis sebab merupakan akibat dari perbuatannya sendiri.

Seperti anak yang senam memanjat pohon adalah wajar dan logis, apabila suatu ketika ia jatuh. Jatuh ini merupakan hukuman menurut alam sebagai akibat dari perbuatannya sering memanjat pohon. Dengan pengalamannya tersebut anak merasa akibatnya dan akan belajar sendiri dengan pengalamannya.


Teori Hukuman balas dendam

Dalam hal ini biasanya diterapkan karena si anak pernah mengecewakan seperti si anak pernah mengejek atau menjatuhkan harga diri guru disekolah atau pada pandangan masyarakat dan sebagainya.[3]

Memperhatikan pendapat diatas maka hukuman ini adalah hukuman yang paling jahat yang tidak dapat dipertanggung jawabkan dalam dunia pendidikan.

Hal ini terjadi mungkin pendidik kecewa baik kekecewaan itu karena orang lain yang akibatnya siswa kena sasaran hukuman atau oleh karena siswa sendiri. Sehingga pendidik mencari kesempatan kapan ia dapat menghukum atau membalas terhadap siswa tersebut, baik hukuman itu secar langsung kepada siswa atau tidak.

Dalam hal ini nampaklah teori ini kurang tepat dengan ilmu mendidik bila seorang guru sampai menggunakan hukuman dengan teori balas dendam tersebut, namun demikian bila memang terpaksa seorang pendidik menggunakan teori balas dendam juga tidak ada salahnya, asal masih dalam garis kepentingan demi tercapainya tujuan pendidikan bukan karena kepentingan pribadi.


Teori Hukuman ganti rugi

Menurut teori inio siswa yang melakukan kesalahan diminta untuk bertanggung jawab atau menggung resiko dari perbuatannya.[4]

Sebagai akibat ia harus mengganti atau menanggung resiko dari perbuatannya misalnya, siswa yang berkejar-kejaran dikelas kemudian memecahkan kaca jendela itu.

Kebaikan dari teori ini adalah :

1. Siswa diajar disiplin dan bertanggung jawab atas perbuatannya.
2. Dapat menimbulkan perasaan jara, sehingga siswa dapat berhati-hati untuk tidak mengulangi perbuatannya.

Sedangkan dampak negatifnya, teori ini adalah :

1. Bagi siswa yang mampu tidak ada kesan terhadap hukuman yang diterima tersebut.
2. Bagi siswa yang tidak mampu terasa berat sekali.


Teori Hukuman menakut-nakuti

Menurut teori ini hukuman diberikan untuk menakut-nakuti anak , agar anak tidak melakukan pelanggaran atau perbuatan yang dilarang. Dalam hal ini nilai didik telah ada, namun perlu diingat oleh para pendidik jangan sampai anak itu berbuat kesalahan lagi, hanya rasa takut saja. Melainkan tidak berbuat kesalahan lagi karena boleh jadi anak akan tunduk hanya dilandasi takut saja kepada pendidik, maka jika tidak ada pendidik kemungkinan besar sekali ia akan mengulangi perbuatannya. Ia akan melakukan perbuatannya secara sembunyi, jika terjadi demikian maka dapat dikatakan bahwa nilai didik dan hukuma itu sangat minim sekali.


Teori Hukuman Memperbaiki

Menurut teori ini hukuman diberikan untuk memperbaiki siswa yang berbuat salah dengan harapan agar selanjutnya tidak melakukan kesalahan lagi atau insaf atas kesalahannya, insaf yang timbul dari kesadaran hatinya, sehingga tidak ingin mengulangi lagi. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Umar Hamalih “ Penyadaran atas hal-hal yang menyebabkan kegagalan ini perlu sekali dengan maksud agar dengan usaha sendiri ( Self Direction ), kita dapat mengatasinya dan memperbaikinya.[5]

Agar siswa insaf, maka pendidik harus memberikan penjelasan diwaktu menjatuhkan hukuman dalam hal apa mereka salah dan apa akibat dari perbuatannya itu. Dengan demikian siswa akan memahami segala tingkah laku dan akibat dari perbuatannya. Hal semacam ini akan membawa siswa pada kematangan berfikir dan kedewasaan.

Dengan uraian diatas berarti hukuman tersebut dapat dipertanggung jawabkan secara pedagogis apabila :

1. Hukuman tersebut dapat menginsafkan siswa atas perbuatannya yang salah.
2. Siswa mempunyai pengertian tentang akibat perbuatan yang baik dan buruk.
3. Berjanji dalam hatinya untuk tidak mengulangi atau berjanji untuk memperbaiki kesalahannya dan akan melakukan hal-hal yang baik.

Karena hal-hal yang demikianlah hukuman yang bersifat memperbaiki sering disebut hukuman pedagogis. Jadi hukuman itu dapat diterapkan dalam pendidikan terutama hukuman yang bersifat pedagogis, menghukum bila perlu jangan terus-menerus dan hindarilah hukuman jasmani.

[1] Amir Daein Indrakusuma, Opcit, hal 1-18

[2] Umar Muhammad Al-Taumy Al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, Hasan Langgulung, Bulan Bintang, Jakarta, 1979, Hal 58

[3] Drs.H. Abu Ahmadi, Ilmu pendidikan, Rineka cipta, Jakarta,1991,Hal 154

[4] Amir Dalen Indrakusuma, Opcit, hal 149

[5] Umar Hamalik, Metode Belajar dan Kesulitan-Kesulitan Belajar, Tarsito, Bandung, 1990, Hal 130

Read more: http://kafeilmu.co.cc/2011/02/bentuk-bentuk-hukuman-dalam-pendidikan-anak#ixzz1Fc0GPdLe

Pentingnya Pendidikan Islam Terhadap Pasang Surutnya IPTEK

Artikel kali ini akan membahas mengenai Pendidikan Islam dan Iptek. Kiriman dari kawan kita Ali Mahfudz di Pon Pes. Nazhatut Thullab Prajjan Kec. Camplong Kab. Sampang. Semoga bermanfaat! Selamat membaca.

—ooO()Ooo—

Penelusuran terhadap perkembangan peradaban dan kemajuan Islam dalam sejarahnya yang cukup panjang akan menghadapi problematika sendiri ketika tidak mengapresiasikan teori-teori dan eksperimen pendidikan Islam, sebab pendidikan merupakan elan vital dalam transformasi peradaban umat manusia. Pendidikan Islam menciptakan kekuatan-kekuatan yang mendorong untuk mencapai tujuan sekaligus menentukan perencanaan dan arah tujuan sebuah perkembangan. Dengan demikian, dinamika sebuah peradaban mau tidak mau akan melibatkan peranan pendidikan, walaupun dalam kapasitas yang sederhana. Maka tidak berlebihan kiranya, kalau ada sebuah asumsi yang muncul kepermukaan bahwa untuk melihat kemajuan sebuah Negara harus dilihat bagaimana dinamika perkembangan dunia pendidikannya.

Sejalan dengan itu kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai manifestasi dari hasil kemampuan berfikir dan nalar manusia berakibat pada perubahan sosial yang menyangkut bidang kehidupan yang luas, tidak saja perubahan dalam tuntutan ekonomi, komunikasi, politik dan lain sebagainya yang selalu aktual bersama dinamika kehidupan. Tapi sektor pendidikan juga ikut bersama-sama dirancang untuk pembangunan sumber daya manusia seutuhnya, karena dunia pendidikan merupakan sebuah usaha yang sengaja diadakan, baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk membantu anak didik sebagai bagian dari sumberdaya manusia bagi Negara Indonesia masa depan yang memerlukan rancang bangunan secara jelas dan mampu memberikan fasilitas menuju kedewasaan seorang anak didik untuk lebih berkembang dan berkualitas.

Pada dasarnya pendidikan mempunyai arti penting bagi manusia dalam mencapai hidupnya sebagai homo education (manusia pendidikan), manusia memerlukan bantuan dan bimbingan untuk dapat mengembangkan potensinya agar dapat tumbuh dan berkembang secara maksimal serta mengarah pada tujuan hidup yang hendak dicapai. Untuk mencapai semuanya itu diperlukan proses pendidikan, baik yang bersifat formal, informal atau non formal sebagai rangkaian proses pemberdayaan potensi dan kompetensi individu untuk menjadi manusia yang berkualitas yang berlangsung sepanjang hayat. Proses ini dilakukan tudak sekedar untuk mempersiapkan peserta didik agar dapat menggali, menemukan dan menempa potensi yang dimiliki, tapi juga untuk mengembangkannya dengan tanpa menghilangkan karakteristik masing-masing sebagai manusia yang beradab. Sebab manusia yang berkualitas adalah manusia yang dapat menggunakan potensi fisik dan non fisiknya untuk melihat dan merespon lingkungan sosialnya. Semakin banyak manusia yang berkualitas dalam makna dapat melihat persoalan yang objektif dan itu kemudian dijadikan landasan untuk mengatasi persoalan, semakin dapat dipastikan bahwa masyarakat kita berjalan secara beradab.

Namun demikian, munculnya globalisasi juga telah menambah masalah baru bagi dunia pendidikan. Bagaimana tidak, di satu sisi sistem pendidikan yang diterapkan harus berimplikasi pada pemupukan nasionalisme peserta didik. Namun di sisi lain hajat pemenuhan kebutuhan pendidikan global harus ditunaikan, agar para lulusannya dapat berfungsi secara efektif dalam kehidupan masyarakat global. Bahkan dewasa ini, dalam dunia pendidikan berkembang sebuah pemikiran tentang pentingnya merubah paradigma pendidikan, karena pendidikan yang ada sekarang dipandang belum mampu mengantarkan murid menjadi manusia yang sesungguhnya. Pendidikan yang seharusnya diartikulasikan sebagai upaya memanusiakan manusia, justru mengarah pada dehumanisasi (tidak berprikemanusiaan), sehingga manusia seperti kehilangan arah dan tujuan hidup, serta semakin teralienasi dari hakikat kemanusiaannya, karena pendidikan hanya dimaknai tidak lebih hanya sebagai transmisi pengetahuan, maka murid gagal menerapkan pengetahuannya di tingkat praksis kehidupan nyata.

Oleh karena itu, sangat penting untuk selalu mempertahankan pendidikan Islam, apalagi di zaman era globalisasi sekarang ini yang selalu mengombang ambingkan arah dan tujuan manusia dalam kehidupannya. Jika sistem pendidikan tidak berlandaskan pada iman dan ilmu, maka tidak akan mampu merealisasikan kebahagiaan hidup manusia dengan sempurna, karena Islam tampil sebagai suatu bentuk intelektual dan spiritual baru yang merupakan hasil perpaduan antara al-Qur’an dan peradaban-peradaban manusia, sementara ilmu dan iman menjadi proses utamanya dalam pendidikan Islam. Islam sangat berhubungan erat dengan pendidikan. Hubungan antara keduanya bersifat organis fungsional, pendidikan berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan Islam, dan Islam menjadi kerangka dasar pengembangan pendidikan Islam, serta memberikan sistem nilai untuk mengembangkan berbagai pemikiran tentang pendidikan Islam.

Dengan sistem seperti ini, pendidikan akan mampu merealisasikan ketenangan dan kemantapan jiwa anak didik serta menghormati kepribadian secara individual. Islam sebagai ajaran yang datang dari Allah SWT, sesungguhnya merefleksikan nilai-nilai pendidikan yang mampu membimbing dan mengarahkan manusia, sehingga menjadi manusia yang sempurna. Islam sebagai agama yang universal juga telah memberikan pedoman hidup bagi manusia menuju kehidupan bahagia yang pencapaiannya bergantung pada pendidikan, karena pendidikan merupakan kunci penting untuk membuka jalan bagi kehidupan manusia.



Penulis: ALI MAHFUDZ

Pon Pes. Nazhatut Thullab Prajjan Kec. Camplong Kab. Sampang

Read more: http://kafeilmu.co.cc/2011/02/pentingnya-pendidikan-islam-terhadap-pasang-surutnya-iptek#ixzz1Fbw8SezV

Manajemen Emosi ~ BLOG SI KEREN

Manajemen Emosi

Seringkali kita menganggap bahwa emosi adalah hal yang begitu saja terjadi dalam hidup kita. Kita menganggap bahwa perasaan marah, takut, sedih, senang, benci, cinta, antusias, bosan, dan sebagainya adalah akibat dari atau hanya sekedar respon kita terhadap berbagai peristiwa yang terjadi pada kita.

Menurut definisi Daniel Goleman dalam bukunya, Emotional Intelligence, emosi merujuk pada suatu perasaan dan pikiran-pikiran khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Sedangkan Anthony Robbins (penulis Awaken the Giant Within) menunjuk emosi sebagai sinyal untuk melakukan suatu tindakan.

Di sini ia melihat bahwa emosi bukan akibat atau sekadar respon, tetapi justru sinyal untuk kita melakukan sesuatu. Jadi dalam hal ini ada unsur proaktif, yaitu kita melakukan tindakan atas dorongan emosi yang kita miliki. Bukannya kita bereaksi atau merasakan perasaan hati atau emosi karena kejadian yang terjadi pada kita.

Lebih lanjut dapat dijelaskan bahwa meskipun ada ratusan jenis emosi, namun ada empat emosi dasar di titik pusatnya (takut, marah, sedih dan senang), dengan berbagai variasi atau nuansanya yang mengembang keluar dari titik pusat tersebut.

Tepi luar ”lingkaran emosi” diisi oleh suasana hati yang secara teknis lebih tersembunyi dan berlangsung jauh lebih lama daripada emosi (misalnya jika suasana hati sedang marah, mudah tersinggung, kejadian kecil yang mengecewakan dapat memicu kemarahan seseorang). Di luar lingkaran suasana hati terdapat temperamen atau watak. Artinya seseorang dalam kondisi selalu dalam suasana hati dengan emosi tertentu, misalnya seseorang dengan temperamen pemarah akan selalu menunjukkan emosi marah setiap saat.

Di luar temperamen, barulah apa yang disebut dengan gangguan emosi seperti: depresi klinis, atau kecemasan yang tidak kunjung reda, kegelisahan dan sebagainya. Emosi secara fisiologis terdapat pada salah satu bagian dari sistem otak yang disebut sistem limbik, yaitu ”otak kecil” di atas tulang belakang, di bawah tulang tengkorak. Sistem limbik ini memiliki tiga fungsi, yaitu mengontrol emosi, mengontrol seksualitas, dan mengontrol pusat-pusat kenikmatan.

Emosi merupakan hal yang paling penting dalam perkembangan otak seseorang. Banyak orang mengira bahwa emosi secara keseluruhan ada di luar kendali dirinya, sehingga berbagai reaksi atas berbagai kejadian hidup terjadi secara spontan. Padahal sesungguhnya kemampuan kita dalam mengendalikan dan mengelola emosi kita merupakan faktor penentu penting keberhasilan atau kesuksesan dalam berbagai aspek kehidupan kita.

Sejak diperkenalkan Kecerdasan Emosi (Emotional Intelligence - EQ) oleh Daniel Goleman pada 1995 tersebut, perhatian masyarakat mulai beralih dari kecerdasan intelektual (IQ) semata kepada kecerdasan emosional. Meskipun sampai saat ini, setidaknya menurut pandangan kami, upaya pendidikan formal masih hanya ditekankan pada penguasaan kecerdasan intelektual - IQ semata.

***

Keterampilan yang berhubungan dengan emosi (dikenal dengan istilah soft-skills) hampir terlupakan dalam sistem dunia pendidikan kita dibandingkan dengan penguasaan ilmu-ilmu pengetahuan dan teknologi (hard-skills). Padahal keberhasilan seseorang amatlah ditentukan oleh kemampuannya menguasai berbagai keterampilan yang berhubungan dengan kecerdasan emosi. Ada ungkapan yang menyatakan bahwa orang tidak akan sukses dalam bidang apa pun kecuali jika ia senang dengan apa yang digelutinya itu.

Pernahkah Anda mengalami tidak menyukai satu mata pelajaran tertentu, atau tidak suka dengan guru yang mengajar mata ajaran tersebut? Saya dapat pastikan bahwa Anda tidak akan memperoleh nilai bagus untuk mata pelajaran itu. Penelitian menunjukkan bahwa emosi biasanya memicu seseorang untuk berprestasi. Oleh karena itu, kecerdasan emosional menjadi lebih penting dibandingkan dengan kecerdasan intelektual atau prestasi akademik. Kecerdasan emosional merupakan kemampuan seseorang untuk memotivasi diri sendiri, bertahan menghadapi frustrasi, mengendalikan dorongan hati (kegembiraan, kesedihan, kemarahan, dan lain-lain) dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati, dan mampu mengendalikan stres.

Kecerdasan emosional juga mencakup kesadaran diri dan kendali dorongan hati, ketekunan, semangat dan motivasi diri, empati dan kecakapan sosial (social skills). Keterampilan yang berkaitan dengan kecerdasan emosi ini antara lain misalnya: kemampuan untuk memahami orang lain, kepemimpinan, kemampuan membina hubungan dengan orang lain, kemampuan komunikasi, kerja sama tim, membentuk citra diri positif, memotivasi dan memberi inspirasi, dan sebagainya. Sebagian besar yang menentukan kesuksesan seseorang dalam hidup adalah kecerdasan emosional ini atau EQ (emotional intelligence). Orang dengan kecerdasan emosional yang tinggi biasanya menonjol dalam kehidupan nyata, misalnya menjadi pemimpin, memiliki hubungan luas, mudah bergaul, mempunyai karakter yang baik dan disiplin diri, serta memiliki kemampuan-kemampuan dasar untuk mencapai kesuksesan hidup.

Dibanding EQ, kecerdasan intelektual (IQ) hanya menyumbang kira-kira 20 persen untuk menentukan kesuksesan seseorang.

***

Bisakah kita meningkatkan kecerdasan emosi kita? Para filsuf besar seperti Socrates maupun Lao Tsu menunjukkan bahwa inti kecerdasan emosional adalah kesadaran akan perasaan diri sendiri. Artinya bahwa semakin kita mengenali diri sendiri, semakin meningkatlah kecerdasan emosi kita. Inilah pesan pokok manajemen diri yaitu mengenali dan mengelola diri (termasuk emosi kita), sehingga akhirnya kita dapat meningkatkan kecerdasan emosi kita yang merupakan penunjang keberhasilan kita dalam kehidupan ini.

Berikut ada 7 keterampilan yang perlu kita perhatikan dalam upaya meningkatkan kecerdasan emosional kita:

1. Mengenali emosi diri. Keterampilan ini meliputi kemampuan kita untuk mengidentifikasi apa yang sesungguhnya kita rasakan. Setiap kali suatu emosi tertentu muncul dalam pikiran, kita harus dapat menangkap pesan apa yang ingin disampaikan.

Berikut adalah beberapa contoh pesan dari emosi:
Takut. Emosi ketakutan (termasuk kegelisahan, kecemasan, kekuatiran, teror) merupakan antisipasi ke hal-hal buruk yang mungkin terjadi yang perlu dipersiapkan. Justru jika kita merasa takut kita justru mengirim pesan untuk siap siaga. Ketakutan itu tidak menyelesaikan masalah, tetapi tindakanlah yang mengatasi rasa takut dan masalah yang mungkin terjadi.

Sakit Hati. Perasaan sakit hati merupakan emosi yang paling mendominasi hubungan antarmanusia, baik pribadi maupun profesional. Sakit hati biasanya disebabkan oleh perasaan kehilangan atau memiliki harapan yang belum terpenuhi. Perasaan ini muncul jika mengharapkan orang menepati janji tetapi ingkar. Rasa kehilangan keakraban atau kepercayaan dapat menciptakan sakit hati.

Marah. Termasuk di dalamnya emosi kebencian, kegeraman bahkan mengamuk. Pesan atas kemarahan adalah berarti adanya suatu aturan atau standar penting yang dipegang dalam hidup telah dirusak oleh orang lain atau bahkan oleh diri sendiri. Kemarahan juga bisa diakibatkan oleh ketakutan atau rasa kehilangan yang menumpuk, sehingga meledak menjadi kemarahan. Oleh karena itu penting bagi kita untuk selalu dapat melepaskan emosi negatif sekecil apapun agar tidak meledak menjadi kemarahan yang destruktif bagi diri dan orang lain.

Frustrasi. Kapanpun kita merasa telah terus menerus berusaha tetapi tidak atau belum memperoleh hasil yang kita harapkan, kita cenderung merasakan emosi frustasi. Pesan emosi frustasi adalah sinyal positif, artinya kita percaya bahwa kita dapat melakukan lebih baik dari yang sedang kita lakukan. Kita hanya perlu mengubah pendekatan, persepsi atau perilaku kita terhadap masalah yang kita hadapi atau upaya yang sedang kita lakukan.

Kecewa. Kekecewaan terjadi jika kita merasa bahwa kita gagal atau kehilangan sesuatu selama-lamanya. Pesan emosi kecewa menunjukkan adanya harapan - tujuan yang seharusnya terwujud - mungkin tidak terjadi, sehingga kita perlu mengubah harapan atau menyesuaikan dengan situasi dan mengambil tindakan dan mencapai tujuan baru.

Rasa Bersalah. Perasaan atau emosi ini muncul ketika kita telah melanggar salah satu standar yang kita pegang. Emosi ini nampaknya mudah diatasi ketika kita merasa tidak ada orang lain yang mengetahui pelanggaran yang kita lakukan. Namun sesungguhnya dampaknya sangat berbahaya di masa mendatang, apalagi jika perasaan itu menumpuk dalam bawah sadar. Rasa bersalah yang terus menerus dapat menyebabkan stres dan mengurangi daya tahan tubuh serta menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit. Oleh karena itu penting sekali untuk segera melepaskan rasa bersalah itu. Kesepian. Perasaan ini muncul ketika kita merasa sendiri atau terpisah dari lingkungan orang lain. Ada dua macam tindakan yang dapat kita lakukan ketika rasa ini muncul. Pertama adalah dengan memanfaatkan emosi kesepian untuk memunculkan energi kreatif yang ada dalam diri kita, sehingga biasanya para seniman atau artis menjadi kreatif ketika mereka merasa kesepian. Hal kedua adalah dengan bertindak untuk mulai membina hubungan baru dengan orang lain. Mengenali emosi diri merupakan bentuk kesadaran diri yang tinggi. Kemampuan untuk memantau perasaan dari waktu ke waktu merupakan hal penting bagi wawasan psikologi dan pemahaman diri. Ketidakmampuan untuk mengenali perasaan membuat kita berada dalam kekuasaan emosi kita, artinya kita kehilangan kendali atas perasaan kita yang pada gilirannya membuat kita kehilangan kendali atas hidup kita.

***

2. Melepaskan emosi negatif Keterampilan ini berkaitan dengan kemampuan kita untuk memahami dampak dari emosi negatif terhadap diri kita. Sebagai contoh, keinginan untuk memperbaiki situasi ataupun memenuhi target pekerjaan yang membuat kita mudah marah ataupun frustrasi seringkali justru merusak hubungan kita dengan bawahan maupun atasan serta dapat menyebabkan stres. Jadi selama kita dikendalikan oleh emosi negatif kita justru tidak bisa mencapai potensi terbaik dari diri kita. Oleh karena itu kita membutuhkan keterampilan untuk dapat menghilangkan emosi negatif sebelum perasaan itu merusak kinerja kita atau kinerja organisasi secara keseluruhan. Kebanyakan orang mengatasi emosi negatif dengan mengekspresikannya (expressing limiting emotions) ataupun dengan menahan (suppressing) emosi tersebut.

Kedua hal ini justru malah menimbulkan dampak negatif. Ekspresi dari emosi seringkali bersinggungan dengan hubungan kita dengan orang lain, sehingga semakin ekspresif kita dalam menyatakan emosi semakin merusak hubungan personal maupun profesional kita.

Menahan emosi di lain pihak dapat menyebabkan tekanan atau stres, sehingga pada gilirannya akan merusak diri kita sendiri. Cara terbaik adalah dengan melepaskan emosi negatif (releasing limiting emotions) melalui teknik pendayagunaan pikiran bawah sadar, sehingga kita maupun orang-orang di sekitar kita tidak menerima dampak negatif dari emosi negatif yang muncul. Ketika kita sudah menguasai keterampilan menghilangkan emosi negatif, maka kita dapat meningkatkan kemampuan kita dalam membina hubungan dengan orang lain, berkomunikasi, kita menjadi semakin optimistis, percaya diri, mudah menyesuaikan diri dan sebagainya.

***

3. Mengelola emosi diri sendiri. Kita jangan pernah menganggap emosi negatif atau positif itu, baik atau buruk. Emosi adalah sekadar sinyal bagi kita untuk melakukan tindakan untuk mengatasi penyebab munculnya perasaan itu. Jadi emosi adalah awal bukan hasil akhir dari kejadian atau peristiwa. Kemampuan kita untuk mengendalikan dan mengelola emosi dapat membantu kita mencapai kesuksesan. Ada beberapa langkah dalam mengelola emosi diri sendiri, yaitu: pertama adalah menghargai emosi dan menyadari dukungannya kepada kita. Kedua berusaha mengetahui pesan yang disampaikan emosi, dan meyakini bahwa kita pernah berhasil menangani emosi ini sebelumnya.

Ketiga adalah dengan bergembira kita mengambil tindakan untuk menanganinya. Kemampuan kita mengelola emosi adalah bentuk pengendalian diri (self controlled) yang paling penting dalam manajemen diri, karena kitalah sesungguhnya yang mengendalikan emosi atau perasaan kita, bukan sebaliknya.

4. Memotivasi diri sendiri Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan merupakan hal yang sangat penting dalam kaitan untuk memberi perhatian, untuk memotivasi diri sendiri (achievement motivation) dan menguasai diri sendiri, dan untuk berkreasi. Kendali diri emosional - menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati - adalah landasan keberhasilan dalam berbagai bidang. Keterampilan memotivasi diri memungkinkan terwujudnya kinerja yang tinggi dalam segala bidang. Orang-orang yang memiliki keterampilan ini cenderung jauh lebih produktif dan efektif dalam hal apapun yang mereka kerjakan.

5. Mengenali emosi orang lain Mengenali emosi orang lain berarti kita memiliki empati terhadap apa yang dirasakan orang lain. Penguasaan keterampilan ini membuat kita lebih efektif dalam berkomunikasi dengan orang lain. Inilah yang disebut Covey sebagai komunikasi empatik. Berusaha mengerti terlebih dahulu sebelum dimengerti. Keterampilan ini merupakan dasar dalam berhubungan dengan manusia secara efektif.

***

6. Mengelola emosi orang lain. Jika keterampilan mengenali emosi orang lain merupakan dasar dalam berhubungan antarpribadi, maka keterampilan mengelola emosi orang lain merupakan pilar dalam membina hubungan dengan orang lain. Manusia adalah makhluk emosional. Semua hubungan sebagian besar dibangun atas dasar emosi yang muncul dari interaksi antarmanusia. Keterampilan mengelola emosi orang lain merupakan kemampuan yang dahsyat jika kita dapat mengoptimalkannya. Sehingga kita mampu membangun hubungan antarpribadi yang kokoh dan berkelanjutan. Dalam dunia industri hubungan antarkorporasi atau organisasi sebenarnya dibangun atas hubungan antarindividu. Semakin tinggi kemampuan individu dalam organisasi untuk mengelola emosi orang lain (baca: membina hubungan yang efektif dengan pihak lain) semakin tinggi kinerja organisasi itu secara keseluruhan.

7. Memotivasi orang lain Keterampilan memotivasi orang lain adalah kelanjutan dari keterampilan mengenali dan mengelola emosi orang lain. Keterampilan ini adalah bentuk lain dari kemampuan kepemimpinan, yaitu kemampuan menginspirasi, mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk mencapai tujuan bersama.

Hal ini erat kaitannya dengan kemampuan membangun kerja sama tim yang tangguh dan handal. Jadi sesungguhnya ketujuh keterampilan ini merupakan langkah-langkah yang berurutan. Kita tidak dapat memotivasi diri sendiri kalau kita tidak dapat mengenali dan mengelola emosi diri sendiri. Setelah kita memiliki kemampuan dalam memotivasi diri, barulah kita dapat memotivasi orang lain. ***


Sumber: www.sinarharapan.co.id